Home Daerah

Workshop Styling Hack & Draping BWBF 2026 Tampilkan Wastra Bojonegoro dalam Gaya Modern Generasi Muda

by Media Rajawali - 18 Juni 2026, 23:13 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Hari kedua Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2026 menghadirkan ruang kreatif yang mempertemukan warisan budaya dengan perkembangan fesyen kontemporer. Melalui workshop Styling Hack & Draping yang berlangsung pada Kamis (18/6/2026), para peserta diajak mengeksplorasi cara baru memanfaatkan Wastra Bojonegoro agar tampil lebih fleksibel, modern, sekaligus tetap mempertahankan identitas budaya yang melekat di dalamnya.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam BWBF 2026 yang mengusung tema “Wastrane Bojonegoro Membumi lan Ngamboro ing Bawono”, sebuah semangat yang menempatkan kain tradisional Bojonegoro tidak hanya sebagai warisan yang dijaga, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat masa kini.

Dalam sesi pelatihan, peserta mendapatkan pemahaman mengenai teknik dasar styling dan draping, yakni metode membentuk busana secara langsung dari selembar kain tanpa melalui proses pemotongan maupun penjahitan. Dengan pendekatan tersebut, Wastra Bojonegoro diolah menjadi berbagai tampilan bergaya streetwear yang sederhana, fungsional, namun tetap menonjolkan karakter khas motif lokal.

Pemateri workshop, Vicky Anasta yang dikenal dengan nama Esa Dega, menekankan bahwa kain tradisional tidak semestinya dibatasi hanya untuk acara seremonial atau busana formal. Menurutnya, melalui sentuhan kreativitas, wastra daerah dapat bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup modern tanpa menghilangkan nilai budaya yang dikandungnya.

Baca juga:

Fashion bukan hanya tentang tren, tetapi juga tentang identitas. Melalui styling dan draping sederhana, kita bisa membawa Wastra Bojonegoro menjadi bagian dari gaya hidup modern tanpa menghilangkan nilai budayanya,” ujar Viky Anasta.

Selain memperkenalkan konsep dasar styling, peserta juga dibekali tiga prinsip utama dalam menciptakan penampilan yang harmonis, yakni proporsi, siluet, dan layering. Ketiga elemen tersebut menjadi fondasi dalam membangun dimensi baru pada busana, sehingga selembar kain tradisional mampu tampil lebih dinamis, menarik, sekaligus nyaman dikenakan dalam berbagai kesempatan.

Suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta dibagi ke dalam sejumlah kelompok kecil dan diberikan tantangan untuk menciptakan satu konsep busana bergaya streetwear menggunakan Wastra Bojonegoro dalam waktu lima menit. Hasil kreasi masing-masing kelompok kemudian dipresentasikan di hadapan peserta lainnya, menciptakan ruang belajar yang tidak hanya edukatif, tetapi juga mendorong keberanian bereksperimen dan bertukar gagasan.

Lebih dari sekadar pelatihan teknik berbusana, kegiatan tersebut mencerminkan upaya memperluas ruang ekspresi budaya melalui pendekatan yang dekat dengan generasi muda. BWBF 2026 menjadi wadah yang mempertemukan tradisi dengan inovasi, sekaligus membuka peluang pengembangan sektor ekonomi kreatif, khususnya industri fesyen berbasis kearifan lokal.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan yang mengemuka sepanjang workshop, bahwa kain tradisional tidak semata-mata untuk disimpan sebagai benda warisan, melainkan untuk dikenakan, dirayakan, dan dihidupkan dalam keseharian.

Melalui kreativitas dan adaptasi terhadap perkembangan zaman, Wastra Bojonegoro terus menemukan relevansinya di tengah masyarakat modern, sekaligus mempertegas posisinya sebagai identitas budaya yang mampu menembus batas ruang dan generasi.

Share :