- Oleh : Budi Hartono
Bojonegoro — Semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini kembali menemukan relevansinya dalam geliat ekonomi kreatif lokal. Forum IKM Jawa Timur (FIJ) Kabupaten Bojonegoro memaknai peringatan Hari Kartini 2026 dengan langkah konkret: memperkuat kapasitas pelaku usaha perempuan melalui kolaborasi lintas sektor.
Bertempat di Bojonegoro Creative Hub, kegiatan yang dikemas dalam suasana Halal Bihalal ini menghadirkan rangkaian agenda produktif, mulai dari kelas kecantikan hingga peragaan busana. Puluhan pelaku usaha perempuan ambil bagian, mencerminkan dinamika baru UMKM yang tak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada citra dan daya saing.
Dukungan pemerintah daerah hadir melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro. Perwakilan dinas, Iwan Hermawan, menilai sinergi dengan FIJ sebagai langkah strategis dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kreatif di wilayah tersebut.
Menurutnya, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah program penguatan ekosistem UMKM, termasuk rencana pengembangan sektor wastra batik khas Bojonegoro. Selain itu, inisiatif menghadirkan ruang terpadu bagi pelaku usaha juga tengah digodok sebagai sarana promosi dan distribusi produk lokal secara lebih terstruktur.
Baca juga:
Ke depan, kami ingin menghadirkan ruang bersama yang memungkinkan pelaku usaha memasarkan produknya secara kolektif. Ini bukan sekadar tempat, tetapi juga pusat interaksi ekonomi kreatif,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua FIJ Bojonegoro, Silvia Merris Retnowati, menekankan bahwa tantangan UMKM saat ini tidak lagi sebatas kualitas produk. Ia menyoroti pentingnya personal branding sebagai faktor pembeda di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.
Pelaku usaha harus mampu membangun identitas diri yang kuat. Produk yang baik perlu didukung oleh citra profesional dari pemiliknya,” ungkap Silvia.
Sebagai bentuk implementasi, FIJ menggandeng La Tulipe dalam penyelenggaraan beauty class. Kegiatan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman tentang penampilan profesional yang relevan dengan dunia bisnis. Acara kemudian dilanjutkan dengan fashion show yang menampilkan karya dan kepercayaan diri para anggota FIJ.
Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi refleksi transformasi peran perempuan Bojonegoro, dari pelaku usaha konvensional menuju aktor ekonomi kreatif yang adaptif dan berdaya saing. Dalam konteks inilah, semangat Kartini tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan kembali dalam bentuk nyata, kemandirian, kreativitas, dan keberanian menembus batas.