- Oleh : Budi Hartono
BOJONEGORO — Pemerintah Desa Semenkidul, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, terus mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis potensi lokal. Salah satu strategi yang kini dikembangkan ialah mengubah lahan pekarangan rumah warga menjadi ruang produktif yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Upaya tersebut tidak berhenti pada pemanfaatan lahan, tetapi diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa. Warga didorong untuk mengolah hasil pekarangan dan kreativitas rumah tangga menjadi produk bernilai jual, sehingga aktivitas ekonomi dapat tumbuh dari lingkungan keluarga dan berkembang menjadi usaha yang lebih mandiri.
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Semenkidul, Handriyani, mengatakan pengembangan UMKM di desanya telah melahirkan sejumlah produk unggulan yang mengangkat potensi serta kreativitas masyarakat setempat.
Salah satu yang paling menonjol adalah jeruk pamelo, yang kini diarahkan menjadi ikon Desa Semenkidul. Tanaman tersebut dikembangkan melalui pemanfaatan pekarangan rumah warga dan telah memberikan hasil nyata setelah pohon-pohon yang ditanam mulai berbuah.
Alhamdulillah, saat ini pohon-pohon di pekarangan warga sudah berbuah lebat dan hasilnya berhasil dijual untuk menambah penghasilan keluarga,” ujar Handriyani.
Menurut dia, hasil panen jeruk pamelo tidak hanya dikonsumsi oleh keluarga, tetapi juga telah dipasarkan kepada masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan Car Free Day (CFD) Kali Pacal yang diselenggarakan Kecamatan Sukosewu. Kehadiran produk tersebut menjadi kesempatan bagi warga untuk memperkenalkan hasil pekarangan sekaligus menguji potensi pasar secara langsung.
Selain jeruk pamelo, Desa Semenkidul juga memiliki beragam produk olahan yang lahir dari inovasi masyarakat. Di antaranya Aserehe, minuman herbal tradisional yang menawarkan cita rasa menyegarkan; teh bunga telang, minuman herbal dengan warna biru alami yang dikenal kaya antioksidan; serta teh kelor yang memanfaatkan tanaman lokal sebagai bahan produk bernilai ekonomi.
Baca juga:
Kreativitas warga juga terlihat dari munculnya sejumlah produk pangan seperti Sushi ala Semen, Rice Bowl, Serabi Mentul, Gapit Gulung, dan keripik pisang.
Ragam produk tersebut menunjukkan bahwa pengembangan UMKM di tingkat desa tidak semata-mata bertumpu pada satu komoditas. Diversifikasi produk menjadi bagian penting agar potensi lokal dapat diolah menjadi berbagai pilihan usaha sesuai keterampilan dan sumber daya yang dimiliki masyarakat.
Pengembangan kapasitas pelaku UMKM juga terus dilakukan. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama Pemerintah Kecamatan Sukosewu memberikan dukungan melalui berbagai pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan produk.
Pelatihan tersebut kemudian diperkuat dengan kegiatan mandiri yang dilakukan komunitas desa. Pola ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan produksi, tetapi juga mendorong pelaku UMKM memahami aspek pengemasan, pemasaran, inovasi produk, serta pengembangan usaha secara berkelanjutan.
Bagi Pemerintah Desa Semenkidul, keberhasilan UMKM bukan hanya diukur dari bertambahnya jumlah produk yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi keluarga dan membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.
Handriyani berharap pengembangan UMKM dapat terus berlanjut sehingga produk-produk lokal Semenkidul memiliki daya saing lebih kuat dan mampu menembus pasar yang lebih luas.
Harapan kami, UMKM di Desa Semenkidul bisa semakin maju, mandiri, dan naik kelas. Dengan produk-produk unggulan yang semakin dikenal, kami yakin program ini dapat secara signifikan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan seluruh masyarakat desa,” pungkasnya.
Dengan memadukan pemanfaatan pekarangan, inovasi pangan, penguatan keterampilan, dan perluasan akses pemasaran, Desa Semenkidul tengah membangun model pemberdayaan ekonomi yang bertumpu pada kekuatan masyarakat sendiri. Dari halaman rumah yang sebelumnya hanya menjadi ruang pelengkap, kini tumbuh peluang baru bagi keluarga untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat fondasi ekonomi desa.