Home Daerah

Sedekah Bumi Sobontoro Rawat Tradisi, Perkuat Kebersamaan dan Lestarikan Seni Oklik

by Media Rajawali - 28 Agustus 2026, 18:32 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO — Tradisi Sedekah Bumi di Desa Sobontoro, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, kembali menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat warisan budaya sekaligus memperkuat rasa kebersamaan. Digelar di kawasan Sumur Mojo, Desa Sobontoro, Jumat (28/8/2026), kegiatan tersebut mempertemukan tradisi agraris, kesenian lokal, dan ungkapan syukur masyarakat yang telah diwariskan lintas generasi.

Kegiatan itu dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro Elzadeba Agustina, Camat Balen Adriyanto, Kepala Desa Sobontoro Mursim, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Balen.

Suasana tradisi semakin semarak dengan hadirnya gunungan hasil bumi yang dibawa masyarakat. Gunungan tersebut dihiasi berbagai komoditas pertanian, di antaranya kacang, tomat, lombok, dan hasil bumi lainnya.

Bagi masyarakat Sobontoro, gunungan bukan sekadar bagian dari prosesi budaya. Di balik keberadaannya tersimpan pesan tentang rasa syukur atas hasil pertanian sekaligus penghormatan terhadap alam yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Selain gunungan hasil bumi, masyarakat juga menampilkan Seni Oklik, salah satu kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Desa Sobontoro. Kehadiran kesenian tersebut menjadi penanda bahwa Sedekah Bumi tidak hanya berbicara tentang rasa syukur, tetapi juga tentang upaya menjaga identitas budaya daerah.

Kepala Disbudpar Bojonegoro Elzadeba Agustina mengatakan, Sedekah Bumi memiliki makna yang cukup luas bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya, terdapat setidaknya tiga hal penting yang tercermin dalam kegiatan tersebut, yakni gunungan hasil bumi, tradisi Sedekah Bumi, dan keberlangsungan Seni Oklik.

Gunungan menunjukkan bahwa hasil bumi masyarakat Desa Sobontoro sangat baik. Ini tentu menjadi sesuatu yang patut kita syukuri, karena tanah yang kita miliki mampu menghasilkan berbagai komoditas pertanian,” ujarnya.

Menurut Elzadeba, Sedekah Bumi merupakan salah satu bentuk kebudayaan masyarakat yang hingga kini masih hidup dan terus berkembang di Kabupaten Bojonegoro. Tradisi tersebut menjadi medium untuk mengungkapkan rasa syukur atas kesehatan, keselamatan, umur panjang, serta keberkahan yang diterima masyarakat.

Baca juga:

Dalam konteks kebudayaan, tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana masyarakat menjaga hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting yang membuat Sedekah Bumi tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Elzadeba juga menyoroti keberadaan Seni Oklik di Desa Sobontoro. Menurutnya, kesenian tradisional tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya Bojonegoro yang patut mendapatkan perhatian dan perlindungan bersama.

Seni Oklik merupakan salah satu kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat. Kesenian ini bahkan telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Kementerian Kebudayaan,” jelasnya.

Ia menegaskan, pengakuan tersebut sekaligus membawa tanggung jawab untuk memastikan kesenian tradisional tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Seni Oklik perlu terus dimainkan, dikenalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, Elzadeba mengajak masyarakat Desa Sobontoro dan seluruh elemen masyarakat Bojonegoro untuk bersama-sama menjaga berbagai tradisi yang telah diwariskan para pendahulu.

Menurutnya, gunungan hasil bumi, Sedekah Bumi, maupun Seni Oklik bukan sekadar rangkaian kegiatan seremonial. Ketiganya merupakan bagian dari identitas masyarakat yang merekam hubungan antara kehidupan agraris, kebersamaan sosial, dan kekayaan budaya lokal.

Ini bukan hanya menjadi kebanggaan Desa Sobontoro, tetapi juga menjadi kebanggaan Kabupaten Bojonegoro secara keseluruhan,” tegasnya.

Melalui pelaksanaan Sedekah Bumi, masyarakat Sobontoro menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhadapan dengan perkembangan zaman. Sebaliknya, warisan budaya dapat terus hidup ketika masyarakat mampu menjadikannya bagian dari kehidupan bersama sekaligus ruang untuk mengenalkan nilai-nilai lokal kepada generasi muda.

Di tengah arus perubahan yang semakin cepat, tradisi seperti Sedekah Bumi menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga ingatan, identitas, dan kebudayaan yang membentuk karakter masyarakatnya.

Share :