Home Daerah

Sedekah Bumi Sidodadi, Merawat Tradisi di Tengah Arus Perubahan Zaman

by Media Rajawali - 10 September 2026, 21:21 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Kepulan asap kemenyan perlahan membubung di tengah suasana khidmat. Semerbak bunga berpadu dengan lantunan doa, sementara gunungan hasil bumi bergerak dalam arak-arakan warga menuju sebuah punden yang menjadi bagian penting dari kehidupan kultural masyarakat Desa Sidodadi, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro.

Pemandangan tersebut mewarnai pelaksanaan tradisi Sedekah Bumi Desa Sidodadi, Rabu (9/9/2026). Sejak pagi, warga dari berbagai kalangan telah berkumpul untuk mengikuti rangkaian tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Dari Balai Desa Sidodadi, gunungan hasil bumi diarak menuju punden yang berjarak sekitar dua kilometer. Prosesi tersebut berlangsung meriah, tetapi tetap sarat dengan nuansa spiritual dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Gunungan menjadi salah satu titik perhatian utama dalam kirab. Beragam hasil bumi seperti sayur-mayur dan buah-buahan ditata secara apik, dilengkapi ayam panggang, kemudian dihias menjadi simbol yang merepresentasikan hasil kehidupan masyarakat agraris.

Bagi warga Sidodadi, gunungan bukan sekadar kumpulan hasil panen yang disusun untuk sebuah perayaan. Di balik bentuknya tersimpan makna tentang kemakmuran, kesuburan tanah, serta ungkapan syukur atas rezeki yang diterima masyarakat.

Setelah kirab tiba di punden, rangkaian ritual dilanjutkan dengan doa bersama. Suasana yang sebelumnya dipenuhi kemeriahan perlahan berubah menjadi khidmat ketika warga mengikuti prosesi dengan penuh penghayatan.

Sedekah Bumi pun menjadi ruang pertemuan antara nilai spiritual dan kebudayaan. Masyarakat tidak hanya menjalankan sebuah ritual tahunan, tetapi juga memperkuat hubungan sosial melalui silaturahmi, gotong royong dan kebersamaan.

Tradisi tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, jajaran Forkopimcam, Pemerintah Desa Sidodadi, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga setempat.

Nurul Azizah mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Sidodadi dalam mempertahankan tradisi sekaligus menjaga semangat keguyuban yang menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat desa.

Baca juga:

Menurutnya, Sedekah Bumi mengandung pesan sederhana namun mendalam, yakni rasa syukur setelah masyarakat melewati masa panen. Momentum tersebut juga menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul, mempererat silaturahmi dan memanjatkan doa bersama.

Sedekah bumi merupakan wujud rasa syukur. Setelah panen, masyarakat berkumpul, bersilaturahmi, dan bersama-sama memanjatkan doa agar hasil bumi semakin melimpah serta masyarakat dijauhkan dari bala dan bencana,” tutur Nurul Azizah.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, keberadaan tradisi seperti Sedekah Bumi memiliki arti penting bagi keberlanjutan identitas budaya masyarakat. Tradisi menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman generasi terdahulu dengan kehidupan generasi hari ini.

Hal itu terlihat dari keterlibatan masyarakat lintas generasi dalam rangkaian kegiatan. Anak-anak, pemuda, orang tua hingga para tokoh masyarakat mengambil bagian dalam perayaan tersebut.

Warisan leluhur dengan demikian tidak berhenti sebagai cerita yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia tetap hidup karena dijalankan, dipahami dan dirayakan secara bersama-sama.

Semangat kebersamaan juga tercermin dalam berbagai kegiatan Desa Sidodadi untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Berbagai elemen masyarakat turut dilibatkan, termasuk pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Kegiatan budaya dan perayaan kemerdekaan tidak hanya menciptakan ruang interaksi sosial, tetapi sekaligus membuka peluang bagi bergeraknya aktivitas ekonomi masyarakat. Keramaian menjadi ruang bagi warga untuk berkarya, berdagang dan memperoleh tambahan penghasilan.

Pada akhirnya, Sedekah Bumi Sidodadi bukan sekadar agenda tahunan yang hadir setelah musim panen. Ia merupakan cermin hubungan masyarakat dengan alam, budaya, kehidupan sosial dan nilai spiritual yang telah mengakar dalam kehidupan desa.

Di balik gunungan hasil bumi yang diarak menuju punden, terdapat pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar kemeriahan sebuah ritual: rasa syukur atas rezeki, penghormatan terhadap warisan leluhur, serta kesadaran bahwa kebersamaan merupakan kekuatan yang perlu terus dirawat.

Sebab sebuah tradisi tidak akan bertahan hanya karena diwariskan. Ia akan tetap hidup ketika masyarakat memilih untuk menjaganya, memahami maknanya dan terus menghadirkannya dalam kehidupan bersama.

Di Sidodadi, pesan itu kembali menemukan bentuknya melalui sebuah gunungan, sebuah kirab dan doa yang dipanjatkan bersama, sebuah cara sederhana masyarakat untuk menjaga ingatan budaya sekaligus menatap masa depan tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Share :