- Oleh : Redaksi
Sragen — Harapan yang lama dipendam akhirnya menemukan jalannya. Di sebuah sudut Desa Pelemgadung, Kecamatan Karangmalang, proses rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Triyanto (45) resmi dimulai oleh Satuan Tugas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-128 Kodim 0725/Sragen, Minggu (26/04/2026).
Pekerjaan diawali dengan pembongkaran atap rumah yang selama ini menjadi sumber kekhawatiran bagi keluarga tersebut. Kayu penyangga yang telah lapuk serta genteng yang aus membuat rumah Triyanto kerap bocor saat hujan turun. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan akibat kelembaban yang tinggi di dalam rumah.
Program rehabilitasi RTLH ini menjadi salah satu dari sepuluh sasaran fisik TMMD Reguler ke-128 di wilayah Sragen. Rumah Triyanto diprioritaskan karena dinilai tidak lagi memenuhi standar kelayakan hunian.
Komandan Koramil 02/Karangmalang, Lettu Arh Ifa Aiwan Kristen, menjelaskan bahwa tahap awal pengerjaan difokuskan pada pembongkaran struktur atap sebagai langkah strategis dalam memastikan keselamatan kerja di lapangan.
Baca juga:
Pembongkaran ini penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan, seperti jatuhnya material genteng, sekaligus mempermudah proses pengerjaan pada tahap berikutnya,” ujarnya.
Lebih dari sekadar proyek pembangunan fisik, kegiatan ini membawa dampak emosional yang mendalam bagi penerima manfaat. Triyanto, dengan mata berkaca-kaca, mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang diterimanya.
Ia mengaku, selama ini kondisi rumahnya kerap menjadi beban pikiran, terutama saat malam hari. Kekhawatiran akan keselamatan keluarga dan ketidaknyamanan tempat tinggal terus menghantui.
Saya sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI. Dulu setiap malam saya hanya bisa berdoa, berharap suatu saat rumah ini bisa diperbaiki. Tidak menyangka, di tahun ini doa itu benar-benar terwujud,” tuturnya penuh haru.
Program TMMD tidak hanya menjadi simbol sinergi antara TNI dan masyarakat, tetapi juga wujud nyata kehadiran negara dalam menjawab kebutuhan dasar warganya. Di balik setiap genteng yang diangkat dan setiap kayu yang diganti, tersimpan cerita tentang harapan, kepedulian, dan perubahan menuju kehidupan yang lebih layak.