Home Nasional

Refleksi Pendampingan KBC di Tuban, Madrasah Perkuat Budaya Belajar Berbasis Cinta dan Karakter

by Media Rajawali - 17 Juni 2026, 21:54 WIB

TUBAN — Upaya memperkuat pendidikan karakter melalui implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) terus menunjukkan perkembangan positif di Kabupaten Tuban. Setelah menjalani pendampingan selama beberapa bulan, puluhan guru dan kepala madrasah berkumpul untuk merefleksikan berbagai perubahan yang mulai tumbuh dalam praktik pembelajaran di sekolah masing-masing.

Refleksi tersebut berlangsung dalam kegiatan Refleksi dan Pendampingan Pilot Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digelar di Ruang Pertemuan PLHUT Kabupaten Tuban, Rabu (17/6). Kegiatan ini menjadi penutup siklus pertama program pendampingan yang difasilitasi INOVASI Jawa Timur.

Sebanyak 40 peserta yang terdiri atas kepala madrasah, guru, pengawas, serta jajaran Kementerian Agama Kabupaten Tuban mengikuti forum tersebut. Mereka berasal dari 10 Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang menjadi lokasi pelaksanaan program, yakni MI Ash Shomadiyah, MI NU Hidayatun Najah Tuban, MIN 1 Tuban, MIS Al-Mahbubiyah, MIS Futuh, MIS Hidayatun Najah, MIS Manbaul Ma'arif, MIS MIM IV Ulum Islamiyah, MIS Islamic International School BAS, dan MIS Tahfidul Qur'an Al-Uswah.

Dalam suasana reflektif dan kolaboratif, para peserta berbagi pengalaman mengenai perubahan yang telah diterapkan selama proses pendampingan. Mulai dari meningkatnya budaya diskusi antarguru, penguatan kolaborasi dalam pembelajaran, hingga penerapan nilai-nilai cinta, empati, dan penghargaan terhadap peserta didik sebagai bagian dari implementasi KBC.

Forum tersebut juga menjadi ruang evaluasi bersama untuk mengidentifikasi capaian, tantangan, serta merumuskan langkah-langkah strategis guna memastikan praktik-praktik baik yang telah tumbuh dapat terus berlanjut dan berkembang di lingkungan madrasah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban, Umi Kulsum, menegaskan bahwa penguatan Kurikulum Berbasis Cinta merupakan bagian penting dalam membentuk karakter generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan nilai kemanusiaan yang kuat.

Menurutnya, manfaat program tidak boleh berhenti pada sepuluh madrasah yang menjadi sasaran pendampingan. Pengalaman dan praktik baik yang telah terbangun perlu diperluas sehingga dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi dunia pendidikan di Kabupaten Tuban.

Kami menyampaikan terima kasih kepada Tim INOVASI dan seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penguatan Kurikulum Berbasis Cinta. Program ini diharapkan tidak berhenti pada madrasah binaan, tetapi dapat diperluas melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi," ujar Umi Kulsum.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan implementasi KBC sangat ditentukan oleh peran kepala madrasah sebagai pemimpin perubahan di lingkungan pendidikan. Transformasi pola pikir dan budaya belajar, menurutnya, harus dimulai dari pimpinan lembaga sebelum diterjemahkan ke dalam praktik pembelajaran oleh para guru.

Baca juga:

Perubahan harus dimulai dari kepala madrasah. Ketika kepala madrasah memahami dan menerapkan nilai-nilai KBC, maka semangat itu akan diteruskan kepada guru dan peserta didik sehingga mampu membentuk karakter yang kuat dan berakhlak mulia," tegasnya.

Lebih lanjut, Umi Kulsum mendorong seluruh kepala madrasah, guru, dan pengawas untuk menjadi agen penyebar praktik baik dengan membagikan pengalaman yang diperoleh selama pendampingan kepada rekan-rekan sejawat. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperluas penerapan KBC sekaligus membangun budaya belajar yang berkelanjutan di lingkungan madrasah.

Di akhir sambutannya, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk mengambil peran aktif dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan karakter peserta didik.

Mari kita siapkan peran dan kontribusi terbaik untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan. Kurikulum Berbasis Cinta harus menjadi ikhtiar bersama dalam membentuk generasi yang berkarakter, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan," katanya.

Sementara itu, STP-District Officer Tuban INOVASI Jawa Timur, Cahyadi Widi Wahyono, menjelaskan bahwa refleksi merupakan bagian penting dari proses pendampingan karena memungkinkan seluruh pihak melihat perkembangan yang telah dicapai sekaligus menyusun langkah lanjutan secara lebih terarah.

Menurutnya, tujuan utama program bukan sekadar menghadirkan kegiatan baru di sekolah, melainkan membangun kebiasaan positif yang secara bertahap berkembang menjadi kebutuhan profesional bagi para pendidik.

Ia menilai perubahan yang berkelanjutan akan terjadi ketika praktik-praktik baik tidak lagi dijalankan karena kewajiban program, melainkan karena telah menjadi bagian dari kesadaran dan budaya kerja guru.

Ketika kesadaran itu sudah menjadi kebutuhan, maka di mana pun tempatnya, tanpa harus dibiasakan lagi, seseorang akan tetap melakukannya," ujarnya.

Cahyadi menuturkan bahwa kegiatan refleksi ini menandai berakhirnya siklus pertama pendampingan bagi kepala madrasah dan guru. Namun demikian, berbagai tindak lanjut masih akan dipersiapkan untuk memperluas dampak program serta memperkuat ekosistem pembelajaran yang lebih kolaboratif dan berpusat pada peserta didik.

Melalui refleksi tersebut, para peserta diharapkan mampu membawa pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh ke lingkungan kerja masing-masing. Dengan demikian, budaya diskusi, kolaborasi, dan saling belajar antarguru dapat terus berkembang, sekaligus menciptakan proses pembelajaran yang lebih humanis, inklusif, dan berkualitas di madrasah-madrasah Kabupaten Tuban.

Berakhirnya siklus pertama pendampingan KBC bukanlah akhir dari sebuah program, melainkan awal dari upaya yang lebih besar untuk menanamkan nilai-nilai cinta, empati, dan karakter dalam sistem pendidikan. Dari ruang-ruang kelas di Tuban, transformasi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial dalam menghadapi tantangan masa depan.

Share :