Home Daerah

PWI, AJI, IJTI dan SMSI Bojonegoro Gelar Doa Bersama untuk Keselamatan Lima Jurnalis

by Media Rajawali - 10 September 2026, 22:14 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Keprihatinan atas kabar lima jurnalis yang belum diketahui kondisinya setelah menjalankan tugas peliputan aktivitas erupsi Anak Gunung Krakatau menggerakkan insan pers di Kabupaten Bojonegoro untuk berkumpul dan memanjatkan doa bersama.

Doa bersama digelar di Masjid kompleks DPRD Kabupaten Bojonegoro, Kamis (10/9/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi wujud solidaritas sekaligus ikhtiar batin para jurnalis agar kelima rekannya segera ditemukan dan dapat kembali kepada keluarga dalam keadaan selamat.

Kegiatan diinisiasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bojonegoro. Bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro. Dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Bojonegoro. Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bojonegoro. Serta turut hadir bersama puluhan awak media.

Sejumlah pimpinan organisasi profesi dan perusahaan media hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua PWI Bojonegoro Sasmito, Ketua AJI Bojonegoro Sueb Abdulloh, serta Ketua SMSI Bojonegoro Kustaji. Doa bersama juga diikuti sahabat-sahabati PC PMII Bojonegoro.

Ketua PWI Bojonegoro Sasmito mengatakan, doa bersama dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap lima jurnalis yang hingga kini belum diketahui kondisi terkininya secara pasti.

Menurutnya, di tengah belum adanya kepastian mengenai keberadaan mereka, doa menjadi salah satu bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan bersama.

Sebelum semuanya jelas, kita hanya berdoa semoga lima jurnalis yang masih hilang kontak tersebut cepat pulang dan kembali ke rumah dengan selamat,” ujar Sasmito.

Ia menegaskan, doa yang dipanjatkan malam itu secara khusus ditujukan bagi keselamatan para awak media yang sedang menjalankan tugas jurnalistik di tengah situasi bencana.

Doa malam ini adalah doa keselamatan para awak media yang masih hilang saat liputan meletusnya Anak Gunung Krakatau,” katanya.

Suasana doa bersama berlangsung khidmat. Para jurnalis yang hadir tidak hanya membawa rasa cemas atas kondisi rekan seprofesinya, tetapi juga pesan bahwa solidaritas dalam dunia jurnalistik tidak berhenti pada ruang redaksi maupun kegiatan peliputan.

Di balik kepedulian tersebut, kegiatan itu sekaligus menjadi momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya keselamatan dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Sasmito meminta wartawan tidak mengabaikan faktor keselamatan ketika berada di lapangan, terlebih saat melakukan peliputan di wilayah yang memiliki potensi bahaya.

Menurutnya, keberanian untuk memperoleh informasi tidak boleh berubah menjadi tindakan yang mengabaikan risiko terhadap keselamatan diri.

Tidak ada berita seharga nyawa. Maka dari itu, siapkan dan pertimbangkan sebelum bekerja,” tegasnya.

Pesan tersebut menempatkan keselamatan jurnalis sebagai bagian penting dari profesionalisme. Kecepatan memperoleh gambar, informasi, maupun peristiwa eksklusif tidak seharusnya mengesampingkan kemampuan seorang wartawan untuk membaca risiko di lapangan.

Dari AJI Bojonegoro, Dedi Mahdi juga mengingatkan pentingnya kemampuan jurnalis dalam membaca kondisi lingkungan ketika melakukan peliputan.

Baca juga:

Menurutnya, aspek keselamatan tidak semata-mata berkaitan dengan peralatan atau kondisi teknis, tetapi juga kemampuan memahami situasi, termasuk tanda-tanda bahaya yang muncul di sekitar lokasi peliputan. Jurnalis, kata dia, perlu mengambil tindakan preventif apabila kondisi lapangan menunjukkan adanya potensi ancaman.

Hal semacam itu kawan-kawan harus bisa memahami dan bisa melakukan tindakan preventif, mencegah hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Ia mencontohkan, apabila terdapat pihak di lokasi yang melarang pengambilan gambar karena pertimbangan keselamatan, wartawan perlu memahami konteks tersebut dan tidak serta-merta memaksakan diri.

Menurut Dedi, sikap profesional bukan hanya ditunjukkan melalui keberanian mendatangi lokasi kejadian, tetapi juga melalui kemampuan menentukan kapan harus mendekat dan kapan harus mengambil jarak.

Dedi juga menyampaikan informasi yang diterimanya bahwa kelima awak media tersebut sebelumnya berada di radius yang dinilai aman ketika menjalankan tugas peliputan.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan dan tetap menunggu informasi yang lebih jelas mengenai kondisi kelima jurnalis tersebut.

Situasi tersebut, menurutnya, perlu disikapi dengan tenang sembari berharap proses pencarian dan penanganan terhadap para jurnalis berjalan dengan baik.

Ketua SMSI Bojonegoro Kustaji menyoroti aspek lain yang tidak kalah penting, yakni perlunya manajemen risiko dalam pekerjaan jurnalistik.

Menurutnya, wartawan harus memiliki kemampuan memperkirakan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi sebelum memasuki suatu lokasi atau menjalankan peliputan tertentu. Harus punya hipotesa dari suatu kejadian sehingga bisa meminimalisir risiko yang ada,” kata Kustaji.

Manajemen risiko, lanjutnya, bukan dimaksudkan untuk mengurangi keberanian wartawan dalam menjalankan tugas, melainkan memastikan keberanian tersebut tetap berada dalam batas kewajaran dan pertimbangan yang matang.

Terlebih ketika peliputan dilakukan di tengah bencana, situasi keamanan yang tidak stabil, maupun kondisi alam yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Dukungan juga datang dari PC PMII Bojonegoro. Ainun dari Korps PMII Putri (Kopri) Bojonegoro menyampaikan keprihatinan atas situasi yang menimpa kelima jurnalis tersebut. Kerja jurnalistik memang sangat berisiko, semoga lekas kembali dengan selamat,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap keberadaan dan peran awak media di Kabupaten Bojonegoro. Menurutnya, selama ini hubungan antara organisasi mahasiswa dan kalangan media telah terjalin dengan baik, terutama dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Malam itu, masjid di kompleks DPRD Bojonegoro menjadi ruang pertemuan antara kekhawatiran, solidaritas, dan harapan.

Doa bersama yang dipimpin Imam Masjid kompleks DPRD Bojonegoro tersebut tidak sekadar menjadi ritual keagamaan, tetapi juga menjadi bentuk dukungan moral dari sesama jurnalis dan masyarakat kepada lima awak media yang tengah menghadapi situasi penuh ketidakpastian.

Bagi para jurnalis yang hadir, keselamatan rekan seprofesi menjadi harapan yang jauh lebih penting daripada sebuah berita.

Mereka berharap kabar mengenai kelima jurnalis tersebut segera diperoleh dan seluruhnya dapat kembali berkumpul bersama keluarga dalam keadaan selamat.

Sebab, di balik setiap tugas jurnalistik terdapat manusia yang memiliki keluarga, orang-orang yang menunggu kepulangannya, dan kehidupan yang jauh lebih berharga daripada satu berita eksklusif sekalipun.

Share :