Home Daerah

PPNS Jajaki Kolaborasi Pengembangan UMKM di Ledok Kulon, Dorong Inovasi Berbasis Potensi Lokal

by Media Rajawali - 07 Juni 2026, 19:32 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Upaya memperkuat daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Bojonegoro terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sinergi antara pemerintah daerah, dunia akademik, dan masyarakat kini menjadi salah satu strategi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Komitmen tersebut tercermin dalam kunjungan dan Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan ini bertujuan memetakan potensi unggulan daerah sekaligus mengidentifikasi peluang kerja sama yang dapat memperkuat kapasitas UMKM berbasis potensi lokal.

Rombongan PPNS yang dipimpin Ir. Ari Lendartono bersama sejumlah dosen dan mahasiswa lintas disiplin ilmu melakukan peninjauan langsung terhadap berbagai sektor usaha yang menjadi kekuatan ekonomi masyarakat Ledok Kulon. Di antaranya sentra produksi arang bakar, industri Tahu Ledok yang telah lama menjadi ikon kuliner daerah, hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan melalui penerapan teknologi dan inovasi.

Kehadiran akademisi di tengah masyarakat mendapat apresiasi dari Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro sekaligus Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membantu UMKM menghadapi berbagai tantangan sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.

Cantika menilai, kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelaku usaha dapat membuka ruang lahirnya berbagai solusi berbasis riset yang lebih tepat sasaran. Melalui pendekatan tersebut, berbagai persoalan yang selama ini dihadapi UMKM dapat dipetakan dan dicarikan jalan keluarnya secara bersama-sama.

Kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat merupakan bentuk perhatian nyata terhadap perkembangan UMKM. Ini menjadi kesempatan berharga bagi pelaku usaha untuk menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi sehingga dapat ditemukan solusi bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejumlah kendala masih menjadi pekerjaan rumah bagi pelaku UMKM di Bojonegoro. Mulai dari keterbatasan akses permodalan, kualitas kemasan produk yang belum optimal, penguatan identitas merek (branding), pemasaran digital yang masih terbatas, hingga aspek legalitas dan standarisasi produk yang semakin dibutuhkan untuk memasuki pasar yang lebih luas.

Karena itu, Cantika menegaskan bahwa penguatan sektor UMKM tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kerja sama yang erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat agar inovasi yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan di lapangan.

Baca juga:

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro selama ini terus melakukan berbagai upaya pendampingan untuk membantu UMKM berkembang dan naik kelas. Salah satunya melalui program kurasi produk yang bertujuan meningkatkan kualitas serta daya saing produk lokal agar mampu memenuhi standar pemasaran yang lebih luas.

Berbagai program kurasi produk terus kami lakukan agar produk lokal memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar yang lebih besar, bahkan berpeluang menembus pasar nasional maupun internasional,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Cantika juga mendorong para pelaku usaha untuk terus meningkatkan kapasitas diri, terbuka terhadap perkembangan teknologi, serta berani membangun jejaring kolaborasi. Ia mencontohkan Tahu Ledok sebagai salah satu produk unggulan Bojonegoro yang berhasil mempertahankan eksistensinya selama puluhan tahun dan telah dikenal luas oleh masyarakat.

Saat ini, produk Tahu Ledok tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal Bojonegoro, tetapi juga telah dipasarkan ke berbagai daerah lain seperti Tuban, Blora, dan Gresik. Dengan dukungan inovasi produk, penguatan pemasaran, serta peningkatan kualitas produksi, komoditas khas Ledok Kulon tersebut dinilai memiliki peluang untuk memperluas jangkauan pasarnya.

Sementara itu, pimpinan rombongan PPNS, Ari Lendartono, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia menegaskan bahwa PPNS saat ini tidak hanya berfokus pada bidang perkapalan, tetapi juga aktif mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat di sejumlah sektor strategis, termasuk pengelolaan limbah, penguatan bisnis berbasis komunitas, hingga pengembangan UMKM.

Kami ingin melihat secara langsung peluang kolaborasi yang dapat diwujudkan bersama UMKM di Ledok Kulon. Hasil diskusi dan pemetaan kebutuhan ini nantinya diharapkan menjadi dasar penyusunan program riset maupun pengabdian masyarakat yang memberikan manfaat langsung bagi warga,” jelasnya.

Melalui forum diskusi tersebut, berbagai aspirasi, tantangan, serta kebutuhan para pelaku usaha berhasil dihimpun. Informasi yang terkumpul akan menjadi bahan kajian untuk merumuskan program pendampingan dan pengembangan yang lebih terukur serta berkelanjutan.

Kolaborasi yang terjalin antara Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, PPNS, dan masyarakat Ledok Kulon diharapkan tidak hanya menghasilkan rekomendasi akademis, tetapi juga melahirkan langkah-langkah konkret yang mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing UMKM.

Lebih dari itu, sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi kerakyatan yang kuat, inovatif, dan berkelanjutan, sehingga UMKM dapat semakin berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bojonegoro.

Share :