- Oleh : Budi Hartono
BOJONEGORO – Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, masih ada warga yang harus menunggu bertahun-tahun untuk menikmati fasilitas dasar berupa listrik. Bagi Karsinem (74), warga Dusun Srening RT 20/RW 07, Desa Selorejo, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, penantian itu kini memasuki babak akhir.
Harapan untuk memiliki aliran listrik di rumahnya mulai terwujud setelah Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) Bojonegoro kembali melanjutkan program sosial pemasangan listrik gratis bagi masyarakat kurang mampu.
Memasuki tahap kedua pelaksanaan program tersebut, PJI Bojonegoro memasang Instalasi Meter Listrik (IML) di rumah Karsinem pada Sabtu (25/7/2026). Pemasangan instalasi itu menjadi bagian dari komitmen organisasi profesi wartawan tersebut untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di luar tugas jurnalistik.
Ketua Panitia Program Pemasangan Listrik Gratis PJI Bojonegoro, Didik Supriyanto, mengatakan seluruh pekerjaan instalasi di rumah Karsinem telah diselesaikan.
Menurutnya, tahap berikutnya tinggal menunggu Surat Perintah Kerja (SPK) dari PLN sebagai salah satu persyaratan sebelum meter listrik dipasang.
Instalasi sudah selesai kami kerjakan. Tinggal menunggu SPK dari PLN. Setelah itu meteran segera dipasang. Insyaallah dalam waktu dekat listrik sudah bisa menyala,” ujar Didik.
Bagi Karsinem, listrik bukan sekadar fasilitas penerangan. Kehadiran aliran listrik di rumahnya merupakan impian yang selama ini hanya bisa dinantikan.
Dengan usia yang telah memasuki 74 tahun, perempuan tersebut akhirnya berkesempatan menikmati penerangan listrik secara mandiri di rumahnya.
Raut bahagia tampak ketika ia menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima. Saya sangat senang. Semoga berkah,” ucap Karsinem singkat.
Ketua PJI Bojonegoro, Syamsul Anam, yang akrab disapa Anam Jozz, menegaskan bahwa program pemasangan listrik gratis tersebut tidak berhenti pada satu penerima manfaat.
Baca juga:
Program itu dirancang sebagai gerakan sosial berkelanjutan yang dilaksanakan setiap tiga bulan. PJI Bojonegoro menargetkan sedikitnya dua rumah warga yang belum memiliki akses listrik untuk mendapatkan bantuan pada setiap periode pelaksanaan.
Anam mengatakan, program tersebut sepenuhnya lahir dari semangat gotong royong anggota PJI Bojonegoro bersama sejumlah donatur.
Program ini murni hasil swadaya anggota PJI Bojonegoro dan beberapa donatur. Kami berkomitmen menjalankannya setiap triwulan dengan target dua rumah penerima manfaat. Semoga menjadi amal jariyah bagi seluruh anggota dan membawa manfaat bagi warga Bojonegoro yang membutuhkan,” kata Anam Jozz.
Bagi PJI Bojonegoro, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas makna pengabdian insan pers. Jurnalisme tidak hanya hadir melalui berita dan informasi, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Program pemasangan listrik gratis tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa Selorejo.
Kepala Desa Selorejo, Iris Setiawan Hadi, melalui Kasi Pemerintahan Priyadi, menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas kepedulian PJI Bojonegoro terhadap warganya.
Menurutnya, bantuan tersebut memiliki arti penting bagi keluarga penerima manfaat, terutama bagi warga yang selama ini belum dapat menikmati akses listrik secara mandiri.
Kami mengucapkan terima kasih kepada PJI Bojonegoro atas kepeduliannya kepada warga kami. Semoga program ini membawa berkah, bermanfaat bagi masyarakat, dan menjadi ladang amal bagi seluruh anggota PJI Bojonegoro,” tuturnya.
Dengan selesainya pemasangan instalasi listrik di rumah Karsinem, satu lagi harapan warga kurang mampu mulai menemukan jalannya menuju kenyataan. Tinggal menunggu proses administrasi dan pemasangan meter listrik, rumah sederhana itu dalam waktu dekat diharapkan segera diterangi cahaya.
Program yang digerakkan melalui gotong royong tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat tumbuh dari berbagai elemen masyarakat. PJI Bojonegoro berharap, melalui program yang dijalankan secara berkelanjutan, semakin banyak keluarga yang belum memiliki akses listrik dapat merasakan manfaat serupa.
Sebab, bagi sebagian orang, listrik mungkin merupakan sesuatu yang dianggap biasa. Namun bagi Karsinem dan keluarga-keluarga lain yang selama ini menantikannya, sebuah lampu yang menyala di dalam rumah dapat menjadi simbol sederhana tentang harapan, martabat, dan kehidupan yang lebih layak.