Home Daerah

Pertanian dan Sektor Jasa Topang Ekonomi Bojonegoro di Tengah Penurunan Produksi Migas

by Media Rajawali - 10 Juni 2026, 02:55 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO — Di tengah tantangan penurunan produksi minyak dan gas bumi (migas) yang masih membayangi sejumlah daerah penghasil energi di Indonesia, Kabupaten Bojonegoro berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi positif pada Triwulan I Tahun 2026. Kinerja tersebut menjadi sinyal kuat bahwa transformasi ekonomi yang selama beberapa tahun terakhir dijalankan pemerintah daerah mulai menunjukkan hasil yang nyata.

Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbaru, perekonomian Bojonegoro tumbuh sebesar 0,02 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Triwulan I-2026. Meski berada dalam tekanan akibat melemahnya sektor migas, capaian tersebut mencerminkan kemampuan daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan sektor-sektor produktif di luar pertambangan.

Pertumbuhan positif ini menjadi pencapaian penting mengingat sektor pertambangan dan penggalian, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah, mengalami kontraksi sebesar 8,78 persen (y-on-y). Penurunan tersebut terjadi seiring berkurangnya produksi migas yang merupakan fenomena alamiah pada lapangan minyak yang telah memasuki fase penurunan produksi.

Meski mengalami kontraksi, sektor pertambangan masih memberikan kontribusi terbesar terhadap struktur ekonomi Bojonegoro dengan porsi mencapai 42,03 persen dari total PDRB. Kondisi ini membuat setiap penurunan produksi migas berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun demikian, strategi diversifikasi ekonomi yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berhasil meredam tekanan tersebut. Penguatan sektor pertanian, jasa, serta aktivitas ekonomi berbasis masyarakat terbukti menjadi bantalan ekonomi yang efektif dalam menjaga momentum pertumbuhan.

Sektor pertanian tampil sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini. Didukung oleh puncak musim panen padi dan meningkatnya produktivitas pertanian, sektor tersebut mencatat pertumbuhan yang sangat impresif.

Secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), sektor pertanian tumbuh hingga 65,94 persen, sementara secara tahunan meningkat 11,38 persen. Angka tersebut menjadikan pertanian sebagai sektor dengan kontribusi paling signifikan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Bojonegoro di tengah melemahnya industri migas.

Pencapaian tersebut tidak terlepas dari berbagai program pembangunan pertanian yang telah dijalankan pemerintah daerah. Mulai dari peningkatan dan optimalisasi jaringan irigasi, kemudahan akses pupuk bagi petani, hingga pendampingan penerapan teknologi pertanian modern yang bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan efisiensi usaha tani.

Baca juga:

Keberhasilan sektor pertanian ini sekaligus menjadi titik balik penting bagi perekonomian Bojonegoro. Pada periode sebelumnya, khususnya Triwulan IV-2023 dan Triwulan I-2024, daerah ini sempat mengalami kontraksi ekonomi masing-masing sebesar minus 3,49 persen dan minus 3,72 persen secara tahunan akibat penurunan performa sektor migas yang saat itu belum mampu diimbangi oleh pertumbuhan sektor lainnya.

Selain pertanian, aktivitas ekonomi masyarakat pada sektor jasa dan pariwisata juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya mobilitas masyarakat serta semakin berkembangnya kegiatan usaha di tingkat lokal.

Sektor akomodasi, makanan, dan minuman mencatat pertumbuhan sebesar 11,37 persen (y-on-y), menunjukkan meningkatnya aktivitas konsumsi dan layanan usaha yang berkaitan dengan pariwisata serta perdagangan. Sementara itu, sektor jasa lainnya tumbuh lebih tinggi lagi, yakni mencapai 14,77 persen (y-on-y).

Pertumbuhan yang kuat pada sektor-sektor tersebut menunjukkan bahwa upaya diversifikasi ekonomi yang dilakukan pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada pengembangan sektor primer, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekonomi berbasis layanan dan kewirausahaan masyarakat.

Kinerja positif tersebut turut memperkuat posisi Bojonegoro dalam peta ekonomi regional Jawa Timur. Berdasarkan data kontribusi pertumbuhan ekonomi non-migas provinsi, Bojonegoro menempati peringkat kesembilan sebagai daerah penyumbang pertumbuhan ekonomi non-migas terbesar di Jawa Timur, dengan kontribusi sebesar 3,20 persen terhadap PDRB provinsi.

Capaian ini memberikan optimisme baru terhadap arah pembangunan daerah di masa mendatang. Ketika sektor migas yang selama ini menjadi andalan menghadapi tantangan penurunan produksi, sektor-sektor ekonomi masyarakat justru menunjukkan ketahanan dan kemampuan untuk mengambil peran yang lebih besar dalam menopang pertumbuhan.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menilai kondisi tersebut sebagai bukti bahwa fondasi ekonomi daerah semakin kuat dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada industri ekstraktif. Penguatan sektor pertanian, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan kualitas sektor jasa menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Ke depan, pemerintah daerah berkomitmen mempercepat hilirisasi produk pertanian, memperluas ekosistem UMKM, serta mengoptimalkan sektor jasa dan ekonomi kreatif guna menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga ketahanan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata di seluruh wilayah Bojonegoro.

Di tengah dinamika industri energi yang terus berubah, keberhasilan Bojonegoro mempertahankan pertumbuhan ekonomi menjadi gambaran bagaimana transformasi ekonomi berbasis masyarakat dapat menjadi fondasi baru pembangunan daerah yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.

Share :