Home Daerah

Permintaan Batik Obor Sewu Meningkat, Ekonomi Masyarakat Samin Margomulyo Ikut Bergerak

by Media Rajawali - 25 September 2026, 17:51 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Pengenalan batik Obor Sewu sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Samin di Dusun Jepang, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, perlahan berkembang melampaui lingkungan komunitasnya. Meningkatnya perhatian terhadap motif tersebut turut mendorong kenaikan permintaan, yang kemudian memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam proses produksinya.

Sebelum kebijakan penggunaan pakaian dinas harian (PDH) Aparatur Sipil Negara (ASN) diterapkan, batik Obor Sewu tidak dipasarkan secara luas di luar komunitas Samin. Masyarakat yang ingin memperoleh kain tersebut justru diarahkan datang langsung ke komunitas Samin di Dusun Jepang, Margomulyo.

Kondisi itu berubah setelah Obor Sewu mulai digunakan sebagai bagian dari kebijakan PDH ASN. Permintaan terhadap kain, selendang, maupun udheng Obor Sewu meningkat dan berdampak terhadap omzet penjualan. Pada saat yang sama, meningkatnya kebutuhan produksi turut membuka ruang ekonomi bagi masyarakat yang memiliki keterampilan membatik dan menjahit.

Dulu kita konsep bahwa Obor Sewu tidak dijual di pasar luar. Artinya, orang yang ingin Obor Sewu harus datang ke komunitas masyarakat Samin. Jadi, bisa menjadi sebuah kebanggaan bagi mereka yang memakai Obor Sewu karena sebagai bukti beliau sudah pernah datang ke komunitas masyarakat Samin,” ujar Bambang.

Pengenalan Obor Sewu juga mulai merambah lingkungan pendidikan. Salah satu perguruan tinggi di Bojonegoro turut memperkenalkan motif tersebut kepada mahasiswa baru dalam kegiatan pengenalan lingkungan kampus. Mahasiswa perempuan menggunakan selendang Obor Sewu, sedangkan mahasiswa laki-laki mengenakan udheng Obor Sewu.

Penggunaan tersebut tidak hanya memperluas jangkauan pengenalan produk, tetapi juga membawa identitas budaya masyarakat Samin ke ruang publik yang lebih luas. Obor Sewu perlahan tidak lagi sekadar dikenal sebagai kain yang berasal dari komunitas tertentu, melainkan menjadi salah satu medium untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan masyarakat Samin kepada generasi muda.

Dari sisi harga, kain Obor Sewu yang digunakan masyarakat berada di kisaran Rp160 ribu. Sementara itu, udheng dibanderol sekitar Rp70 ribu dan selendang sekitar Rp40 ribu. Permintaan terhadap ketiga produk tersebut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat yang terlibat dalam rantai produksinya.

Namun, meningkatnya permintaan tidak serta-merta mengubah prinsip dasar pengelolaan Obor Sewu. Motif tersebut memiliki kedudukan khusus sebagai identitas budaya masyarakat Samin Margomulyo dan telah tercatat dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dengan nomor pencatatan 000160986.

Baca juga:

Pencatatan tersebut menjadi salah satu dasar dalam menjaga penggunaan dan produksi motif Obor Sewu agar tetap sesuai dengan peruntukannya bagi masyarakat Samin Margomulyo. Karena itu, proses pembatikan tetap dilakukan oleh masyarakat Samin di wilayah Margomulyo.

Ketentuan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertahankan keaslian motif, karakter visual, serta nilai filosofis yang melekat pada Obor Sewu. Dengan demikian, perluasan permintaan ke luar komunitas tetap berjalan beriringan dengan upaya menjaga akar budaya yang melahirkan motif tersebut.

Meningkatnya permintaan setelah penerapan kebijakan PDH ASN juga sempat memperbesar jumlah masyarakat yang terlibat dalam proses produksi. Pada periode permintaan tinggi, lebih dari 50 orang ikut bekerja dalam proses membatik dan menjahit. Saat ini, sekitar 30 hingga 40 orang masih terlibat dalam produksi, baik sebagai pembatik maupun penjahit.

Bambang menjelaskan, pembatik Obor Sewu tetap berasal dari masyarakat Samin Margomulyo. Sementara proses menjahit melibatkan masyarakat dari sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Ngraho. Pola tersebut membuat dampak ekonomi dari meningkatnya permintaan tidak hanya dirasakan oleh pembatik, tetapi juga menjangkau masyarakat yang memperoleh pekerjaan dari proses penjahitan.

Permintaan yang meningkat bahkan mendorong sebagian masyarakat Samin yang sebelumnya belum memiliki keterampilan membatik untuk mulai belajar. Ketika kebutuhan produksi sempat melonjak setelah penerapan kebijakan PDH ASN, paguyuban batik di Bojonegoro juga pernah membantu memenuhi sebagian kebutuhan melalui kesepakatan bersama.

Setelah kebutuhan tersebut terpenuhi, proses produksi kembali dilakukan oleh masyarakat Samin. Pola itu menunjukkan bahwa peningkatan permintaan dapat menjadi pemicu regenerasi keterampilan membatik sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga keberlangsungan Obor Sewu.

Hingga kini, permintaan terhadap Obor Sewu masih berjalan dengan rata-rata sekitar satu hingga dua pesanan setiap hari. Meskipun tidak lagi berada pada tingkat permintaan tertinggi, aktivitas tersebut tetap memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat yang terlibat dalam proses produksi.

Di tengah arus permintaan yang terus berlangsung, Obor Sewu berada pada persimpangan antara pelestarian budaya dan aktivitas ekonomi. Kain tersebut bukan hanya menjadi produk yang digunakan dalam kebutuhan kedinasan maupun kegiatan pendidikan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi masyarakat luar untuk mengenal lebih dekat sejarah, ajaran, dan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Samin.

Bagi masyarakat Samin Margomulyo, semakin dikenalnya Obor Sewu membawa konsekuensi sekaligus peluang. Di satu sisi, identitas budaya harus tetap dijaga agar tidak kehilangan akar dan makna filosofisnya. Di sisi lain, meningkatnya permintaan menciptakan ruang ekonomi bagi pembatik dan penjahit.

Dengan demikian, perjalanan Obor Sewu menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berdiri terpisah dari kehidupan ekonomi masyarakat. Ketika keterampilan membatik tetap diwariskan, produksi tetap berada di tangan masyarakat lokal, dan nilai budaya tetap dipertahankan, perkembangan pasar dapat menjadi salah satu ruang bagi keberlanjutan tradisi masyarakat Samin Margomulyo.

Share :