- Sumber : PJI [Persatuan Jurnalis Indonesia]
BOJONEGORO – Di tengah hamparan hutan jati yang membentang di wilayah Margomulyo, sebuah tradisi tua kembali menghidupkan semangat kebersamaan masyarakat Samin. Warga Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, menggelar tradisi Nggemblang pada Minggu Pahing, sebuah perhelatan budaya yang tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi juga sarana mempererat hubungan antarsesama yang telah diwariskan lintas generasi.
Tahun ini, suasana Nggemblang terasa semakin semarak dengan kehadiran komunitas jeep yang menggelar kegiatan off-road di kawasan hutan sekitar desa. Meski demikian, kemeriahan tersebut tidak menggeser makna utama tradisi yang telah menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Samin.
Bagi warga Samin, Nggemblang memiliki nilai yang jauh melampaui sebuah seremoni tahunan. Tradisi ini berakar dari ungkapan gembelake sanak kadang, yang berarti mengumpulkan sanak saudara, kerabat, dan sahabat dalam satu ikatan kebersamaan. Melalui momentum tersebut, masyarakat berbagi makanan, mempererat hubungan kekeluargaan, sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh dari hasil bumi.
Pelaksanaan Nggemblang umumnya dilakukan setelah musim panen raya. Dalam tradisi ini, rumah-rumah warga menjadi ruang perjumpaan yang hangat, tempat nilai-nilai persaudaraan dan gotong royong diwujudkan secara nyata. Kebersamaan yang terjalin bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari ajaran hidup masyarakat Samin yang menempatkan keharmonisan sosial sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
Bambang Sutrisno, generasi kelima penerus ajaran Samin Surosentiko, menegaskan bahwa tujuan utama Nggemblang adalah menjaga hubungan antarmanusia agar tetap erat dan tidak terputus oleh waktu maupun perbedaan.
Baca juga:
Tujuan Nggemblang adalah untuk mempererat hubungan saudara, teman, dan juga handai taulan. Jangan sampai ada yang hilang atau putus tali persaudaraannya,” ujar Bambang.
Menurut Bambang, tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak hanya terletak pada ikatan darah, tetapi juga pada kemampuan menjaga hubungan sosial yang harmonis. Oleh karena itu, Nggemblang terus dipertahankan sebagai ruang silaturahmi yang menyatukan berbagai kalangan.
Ia juga menilai keterlibatan komunitas jeep dalam memeriahkan acara merupakan bentuk interaksi positif antara budaya lokal dan aktivitas masyarakat modern. Kehadiran para pegiat off-road, kata dia, tidak mengubah substansi maupun nilai yang terkandung dalam tradisi Nggemblang.
Walaupun dimeriahkan dengan kegiatan off-road oleh teman-teman komunitas jeep, hal itu tidak mengubah makna dari Nggemblang itu sendiri,” katanya.
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Samin mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya. Tradisi yang diwariskan leluhur tetap dijaga, sementara ruang partisipasi bagi masyarakat luar terbuka sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman dan kebersamaan.
Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, Nggemblang hadir sebagai pengingat bahwa nilai-nilai kemanusiaan seperti gotong royong, solidaritas, dan persaudaraan tetap relevan untuk dipelihara. Tradisi ini tidak hanya menjadi perayaan pascapanen, tetapi juga cerminan kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya menjaga hubungan antarsesama sebagai modal utama kehidupan bermasyarakat.
Lebih dari sekadar warisan budaya, Nggemblang menjadi simbol ketahanan nilai-nilai luhur masyarakat Samin. Di tengah derasnya modernisasi, tradisi tersebut membuktikan bahwa identitas budaya dapat tetap hidup, berkembang, dan berjalan berdampingan dengan berbagai aktivitas masa kini tanpa kehilangan makna yang diwariskan para leluhur.