Home Daerah

Luas Tanam Tembakau Bojonegoro Tembus 15.672 Hektare, Harga Rajangan Capai Rp48 Ribu per Kilogram

by Media Rajawali - 03 September 2026, 15:24 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Budidaya tembakau di Kabupaten Bojonegoro memasuki musim yang menjanjikan. Hingga Agustus 2026, luas areal tanam komoditas tersebut telah mencapai 15.672,68 hektare, atau meningkat sekitar 3.631 hektare dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang tercatat 12.041 hektare.

Peningkatan tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor perkebunan sekaligus menunjukkan kembali kuatnya minat petani Bojonegoro terhadap tembakau. Di tengah bertambahnya luas tanam, harga jual di tingkat petani juga berada pada level yang relatif menguntungkan.

Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkoordinator Tanaman Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Bambang Wahyudi, mengatakan kondisi iklim menjadi salah satu faktor yang turut mendorong peningkatan luas tanam tembakau tahun ini.

Untuk tahun 2026 sampai hari ini luas tanam tembakau mencapai 15.672,68 hektare. Ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 12.041 hektare,” kata Bambang.

Menurut Bambang, perkembangan luas tanam tembakau tidak terlepas dari dinamika cuaca setiap musim tanam. Kondisi iklim menjadi salah satu pertimbangan penting bagi petani dalam menentukan komoditas yang akan dibudidayakan.

Ketika kondisi cuaca dinilai mendukung, petani cenderung meningkatkan penanaman tembakau. Sebaliknya, perubahan kondisi iklim dapat memengaruhi keputusan petani dan berimbas pada luas areal tanam dari satu tahun ke tahun berikutnya.

Selain peningkatan luas tanam, pergerakan harga tembakau juga memberikan kabar baik bagi petani. Untuk tembakau rajangan, harga di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram, bergantung pada kualitas hasil panen. Bahkan, harga yang diterima sebagian petani dapat mencapai Rp48.000 per kilogram.

Kondisi tersebut dirasakan Sukro, petani tembakau asal Desa Sitiaji, Kecamatan Sukosewu. Ia mengatakan harga tembakau yang diterimanya saat ini cukup memberikan harapan di tengah biaya produksi yang harus ditanggung selama musim tanam.

Baca juga:

Untuk daun basah, harga berada pada kisaran Rp2.000 hingga Rp4.000 per kilogram. Sementara tembakau rajangan kering dapat mencapai Rp45.000 hingga Rp48.000 per kilogram.

Alhamdulillah, kami merasa senang dengan harga tembakau saat ini yang mencapai Rp45.000. Semoga ke depan pupuk semakin mudah didapat dengan harga yang lebih terjangkau,” ujar Sukro.

Bagi petani, harga jual bukan sekadar angka dalam transaksi perdagangan. Harga menjadi salah satu penentu apakah hasil budidaya mampu menutup biaya produksi sekaligus memberikan pendapatan yang layak bagi keluarga petani.

Karena itu, Sukro berharap harga yang relatif baik tersebut tidak hanya bertahan pada masa penjualan saat ini, tetapi juga tetap terjaga ketika produksi memasuki periode panen raya.

Kami juga berharap saat panen raya nanti harga tembakau tetap bagus, sehingga petani bisa mendapatkan hasil yang sepadan dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan,” katanya.

Peningkatan luas tanam dan harga jual yang relatif tinggi menjadi modal positif bagi keberlangsungan budidaya tembakau di Bojonegoro. Namun, kondisi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan agar keuntungan petani tidak berhenti pada tingginya harga di tingkat pasar.

Ketersediaan sarana produksi, terutama pupuk dengan harga yang terjangkau, tetap menjadi kebutuhan penting. Bagi petani, kepastian memperoleh pupuk pada waktu yang tepat akan berpengaruh terhadap proses pemeliharaan tanaman hingga kualitas hasil panen.

Di sisi lain, kepastian harga saat panen raya juga menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan usaha tani. Peningkatan produksi tanpa diikuti pasar dan harga yang memadai berpotensi menekan pendapatan petani.

Karena itu, momentum meningkatnya luas tanam tembakau pada 2026 perlu diikuti dengan dukungan yang mampu menjaga produktivitas sekaligus memperkuat posisi petani ketika memasuki masa panen.

Dengan iklim yang mendukung, ketersediaan sarana produksi, serta harga hasil panen yang tetap memberikan keuntungan, budidaya tembakau diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan geliatnya, tetapi juga memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap kesejahteraan petani di Kabupaten Bojonegoro.

Share :