- Oleh : Suyanto || Sumber : AWPI
Bojonegoro – Kepedulian terhadap kelestarian sumber air terus digaungkan di Kabupaten Bojonegoro. Puluhan elemen masyarakat bersama Pemerintah Desa Klino, Kecamatan Sekar, menggelar Gerakan Budaya Pelestarian Sumber Air dengan menanam pohon beringin di tiga titik mata air vital, yakni Sendang Malaikat, Sendang Lanang, dan Sumur Bandung.
Kegiatan ini merupakan hasil sinergi Wahana Abdi Budaya (WAB), Ademos, Pemerintah Desa Klino, Yayasan Kabel Wahid Indonesia (KWI), Sarung Ijo Nusantara (SIN), Gemuruh, Karya Karsitun Sejahtera, Bjnprfct, Berita Bojonegoro 3, serta Sayur Segar BMW. Aksi tersebut tidak hanya sebatas penanaman pohon, melainkan dikemas sebagai gerakan kebudayaan yang menegaskan pentingnya hubungan manusia dengan alam.
Koordinator kegiatan, Kuzaini atau yang akrab disapa Kang Zen, menyampaikan bahwa penanaman beringin merupakan langkah nyata menghadapi dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan masyarakat. Menurutnya, menjaga mata air adalah investasi masa depan bagi generasi mendatang.
“Menanam beringin di area sendang bukan sekadar menanam pohon, tetapi menanam peradaban. Ini adalah warisan oksigen dan air bersih bagi anak cucu Bojonegoro puluhan tahun ke depan,” ungkapnya.
Baca juga:
Pemilihan pohon beringin (Ficus benjamina) bukan tanpa alasan. Selain memiliki filosofi sebagai “Pohon Pamomong” atau pelindung dalam tradisi lokal, beringin dikenal memiliki kemampuan menyimpan cadangan air tanah dalam jumlah besar serta menjaga kestabilan tanah di sekitar sumber mata air.
Pemerintah Desa Klino memberikan apresiasi penuh terhadap kegiatan kolaboratif tersebut. Sekretaris Desa Klino, Andiko Supriyono, menilai kehadiran berbagai komunitas dalam menjaga lingkungan menjadi bukti nyata semangat gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Desa Klino memiliki potensi alam yang harus dijaga bersama. Harapannya, pohon beringin yang ditanam hari ini akan tumbuh kuat seiring kuatnya kebersamaan kita dalam mewujudkan desa yang lestari dan mandiri air,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan giaran, doa bersama, serta tasyakuran melalui tumpengan. Selanjutnya dilakukan penanaman 16 pohon beringin di sekitar area mata air, kemudian ditutup dengan komitmen bersama untuk memantau pertumbuhan pohon secara berkelanjutan.
Selama kegiatan berlangsung, situasi berjalan aman, tertib, dan penuh semangat kebersamaan. Gerakan ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber air sebagai penopang kehidupan.