Home Daerah

Kemarau Panjang Tekan Pertanian, Purwosari Siapkan Jaringan Pengairan dari Bengawan Solo

by Media Rajawali - 15 September 2026, 20:15 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO — Kemarau panjang kembali menempatkan persoalan ketersediaan air sebagai tantangan serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Bojonegoro. Di Kecamatan Purwosari, sebagian besar lahan pertanian masih bergantung pada curah hujan, sehingga keterbatasan sumber air pada musim kemarau berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan tanaman, produktivitas, hingga kualitas hasil panen petani.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kecamatan Purwosari mencari solusi yang lebih permanen. Koordinasi dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), serta Koordinator Wilayah Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Purwosari untuk memetakan potensi pengembangan jaringan pengairan.

Kecamatan Purwosari memiliki sekitar 3.376 hektare lahan pertanian. Dari luasan tersebut, sekitar 95 persen merupakan lahan tadah hujan. Artinya, sebagian besar aktivitas pertanian masyarakat sangat dipengaruhi oleh keberadaan air hujan.

Pada musim kemarau, petani tetap mengusahakan sejumlah komoditas, antara lain tembakau dan jagung. Namun, terbatasnya sumber air membuat tanaman tidak selalu memperoleh pasokan air yang memadai. Dampaknya, potensi produksi belum dapat berkembang secara optimal.

Salah satu sumber air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat adalah Kali Gandong. Namun, kapasitas sumber tersebut dinilai belum cukup untuk menjawab kebutuhan pengairan lahan pertanian secara lebih luas.

Camat Purwosari, Ike Widiyaningrum, mengatakan pemerintah kecamatan bersama sejumlah pihak telah membahas beberapa alternatif untuk memperkuat sistem pengairan pertanian. Sedikitnya terdapat tiga skenario yang tengah dipertimbangkan.

Skenario pertama adalah pembangunan cek dam di Kali Gandong yang dilengkapi pintu air. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat menahan sekaligus mengatur distribusi aliran air sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian secara lebih terukur.

Alternatif kedua berupa pembangunan jaringan pengairan dari Bendungan Karangnongko dengan memanfaatkan jaringan Solo Valley. Opsi ini dinilai memiliki potensi untuk mendukung kebutuhan air pertanian, tetapi pelaksanaannya masih menunggu penyelesaian pembangunan fisik Bendungan Karangnongko.

Sementara alternatif ketiga adalah membangun intake atau titik pengambilan air dari Sungai Bengawan Solo, kemudian memperluas jaringan pengairan menuju sejumlah embung yang telah tersedia di wilayah Purwosari.

Dari ketiga opsi tersebut, skema pemanfaatan air Bengawan Solo saat ini dinilai paling memungkinkan untuk dikembangkan. Pertimbangannya bukan hanya karena ketersediaan sumber air, tetapi juga karena Purwosari telah memiliki sejumlah embung yang dapat dioptimalkan sebagai bagian dari sistem distribusi dan tampungan air.

Dari beberapa diskusi yang dilakukan dengan beberapa pihak, pengairan dari Sungai Bengawan Solo yang dirasa paling memungkinkan karena sudah tersedia tampungan air berupa embung dan juga mempertimbangkan luasan areal pertanian,” ujar Ike.

Pemerintah Kecamatan Purwosari telah melakukan pemetaan awal terhadap jalur pengairan yang berpotensi dikembangkan dari Bengawan Solo. Rencana tersebut tidak berhenti pada pengambilan air dari sungai, tetapi diarahkan untuk membentuk jaringan yang terhubung dengan embung-embung di sejumlah desa.

Pemetaan dimulai dari titik pangkal di Sungai Bengawan Solo, kemudian diarahkan melewati Embung Blibis di Desa Purwosari, Embung Oro-Oro Geneng di Desa Gapluk, embung Desa Pojok, embung Desa Punggur, embung Desa Sedahkidul, hingga embung Desa Pelem.

Rangkaian titik tersebut menjadi bagian penting dalam gagasan pengembangan sistem pengairan. Dengan memanfaatkan embung yang telah tersedia, pembangunan jaringan baru diharapkan tidak harus sepenuhnya bertumpu pada pembangunan tampungan air dari awal.

Baca juga:

Kami telah melakukan pemetaan jaringan pertanian mulai titik pangkal di Sungai Bengawan Solo sampai melewati embung di beberapa desa. Hasil pemetaan jaringan ini tentunya membutuhkan kajian dari dinas terkait, termasuk untuk alokasi anggaran dan kewenangannya,” jelas Ike.

Menurut dia, pemetaan tersebut masih merupakan tahap awal. Kajian teknis dari instansi yang memiliki kewenangan diperlukan untuk memastikan kelayakan konstruksi, kapasitas jaringan, kebutuhan anggaran, serta pola distribusi air yang paling sesuai dengan kondisi geografis dan luasan lahan pertanian.

Harapannya, pembahasan lintas sektor itu tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan. Pemerintah Kecamatan Purwosari ingin hasil pemetaan dapat menjadi pijakan bagi terwujudnya sistem pengairan yang mampu menjawab kebutuhan pertanian di wilayah barat Bojonegoro.

Harapannya hal ini bisa terealisasi agar permasalahan pengairan wilayah barat segera ada solusi,” kata Ike.

Langkah tersebut mulai memasuki tahap tindak lanjut. Pada 10 September 2026, konsultan dari Kementerian Pekerjaan Umum bersama DKPP telah melakukan survei lokasi untuk melihat secara langsung kondisi lapangan dan potensi pengembangan jaringan pengairan.

Hasil survei tersebut selanjutnya akan menjadi bahan pembahasan lebih lanjut bersama jajaran dan perangkat daerah terkait. Tahap ini penting untuk mengubah gagasan jaringan pengairan dari sekadar pemetaan awal menjadi sebuah perencanaan teknis yang dapat ditindaklanjuti.

Bagi sektor pertanian, keberadaan jaringan pengairan bukan sekadar persoalan tersedianya air pada musim kemarau. Ketersediaan air yang lebih terjamin berpotensi mengubah pola tanam dan meningkatkan frekuensi penanaman dalam satu tahun.

Koordinator Wilayah BPP Kecamatan Purwosari, Etty Nurdariyanti, mengatakan pemenuhan kebutuhan air dari Bengawan Solo berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas pertanian. Menurutnya, apabila jaringan pengairan dapat diwujudkan, manfaatnya tidak hanya berupa peningkatan produksi, tetapi juga membuka peluang peningkatan indeks pertanaman (IP).

Dengan adanya strategi pemenuhan air dari Sungai Bengawan Solo ini, harapannya bisa meningkatkan produksi pertanian dan meningkatkan indeks pertanaman. Dari IP 1 bisa menjadi 2 atau bahkan 3,” ungkap Etty.

Peningkatan IP berarti lahan yang selama ini hanya dapat ditanami sekali dalam setahun karena keterbatasan air berpeluang dimanfaatkan untuk dua hingga tiga kali musim tanam, apabila kondisi teknis, komoditas, dan ketersediaan sarana produksi memungkinkan.

Menurut Etty, dari sisi sarana produksi, kebutuhan petani seperti pupuk dan bibit pada dasarnya telah tersedia. Karena itu, ketersediaan air menjadi salah satu mata rantai penting yang masih perlu diperkuat.

Karena saat ini dengan kebutuhan pupuk dan bibit yang sudah terpenuhi, masalahnya tinggal kecukupan air,” pungkasnya.

Pengembangan jaringan intake Bengawan Solo dengan memanfaatkan embung yang telah tersedia pada akhirnya tidak hanya dipandang sebagai respons terhadap kemarau. Lebih jauh, skema tersebut dapat menjadi investasi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pertanian terhadap curah hujan.

Jika terealisasi, jaringan tersebut berpotensi memperkuat fondasi produksi pertanian di Purwosari, memperluas peluang musim tanam, sekaligus memberikan kepastian air yang lebih baik bagi petani.

Di tengah perubahan pola cuaca dan meningkatnya tekanan terhadap ketersediaan air, pembangunan sistem irigasi yang terencana menjadi semakin penting. Bagi Purwosari, persoalannya kini bukan semata bagaimana bertahan melewati musim kemarau, melainkan bagaimana memastikan air tersedia agar lahan pertanian tetap produktif sepanjang tahun.

Dengan luas lahan mencapai ribuan hektare dan sebagian besar masih berstatus tadah hujan, terwujudnya jaringan pengairan dari Bengawan Solo akan menjadi langkah strategis untuk memperkuat Purwosari sebagai salah satu kawasan penyangga produksi pangan di Kabupaten Bojonegoro.

Share :