Home Daerah

Jaranan di Galeri Bengawan Hidupkan Wisata Budaya dan Ekonomi Lokal Bojonegoro

by Media Rajawali - 02 November 2026, 20:01 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Atraksi kesenian tradisional Jaranan Turonggo Seto Mudo menjadi daya tarik utama dalam kegiatan wisata budaya di Galeri Bengawan, Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (1/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di kawasan tepi Bengawan Solo tersebut menarik perhatian ratusan warga sekaligus menjadi upaya memperkuat pariwisata berbasis budaya lokal dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sejak pukul 06.30 WIB, masyarakat, pelaku seni, dan tamu undangan mulai memadati kawasan Galeri Bengawan. Antusiasme pengunjung menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki daya tarik sebagai bagian dari identitas daerah sekaligus potensi pengembangan destinasi wisata Bojonegoro.

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro itu diawali dengan senam sehat bersama Tim Senam Hasanudin. Masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk anggota PKK, Karang Taruna, aparatur sipil negara (ASN), dan kepala desa, mengikuti kegiatan tersebut sebelum memasuki rangkaian acara utama.

Acara kemudian dilanjutkan dengan seremoni pembukaan dan doa bersama sebagai ungkapan syukur atas keberadaan Bengawan Solo yang memiliki peran penting dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Bojonegoro.

Kepala Disbudpar Kabupaten Bojonegoro, Elzadeba Agustina, hadir bersama jajaran. Turut hadir anggota DPRD Bojonegoro, Camat Trucuk Adi Santoso beserta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), Kepala Desa Padang, serta para kepala desa se-Kecamatan Trucuk.

Dalam sambutannya, Elzadeba mengapresiasi masyarakat Desa Padang yang terus menjaga dan mengembangkan potensi kebudayaan di kawasan Bengawan Solo. Ia menegaskan bahwa Galeri Bengawan tidak hanya diarahkan sebagai tempat kunjungan wisata, tetapi juga sebagai ruang edukasi yang memperkenalkan sejarah, lingkungan, dan kebudayaan sungai kepada masyarakat.

Galeri Bengawan ini kami bangun dengan konsep living museum. Kami ingin wisatawan tidak hanya datang untuk selfie di Bendung Gerak, tetapi juga memahami sejarah, ekologi, dan budaya Bengawan. Hari ini kita buktikan, dengan senam sehat kita bugar, dengan jaranan kita jaga budaya," ungkapnya.

Menurut Elzadeba, atraksi wisata budaya tersebut direncanakan berlangsung secara rutin setiap bulan dengan lokasi bergiliran di berbagai desa wisata di Kabupaten Bojonegoro. Program ini diharapkan mampu memperluas promosi potensi daerah, memberikan ruang bagi seniman tradisional untuk berkarya, serta mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Baca juga:

Pengembangan wisata berbasis potensi lokal dinilai penting agar manfaat pariwisata dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat desa. Melalui keterlibatan pelaku seni, pengelola destinasi, dan pelaku usaha, kegiatan kebudayaan diharapkan mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

Dukungan terhadap pengembangan Galeri Bengawan juga disampaikan perwakilan DPRD Bojonegoro, Sudiono. Ia menilai kawasan tersebut memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata unggulan, mulai dari keberadaan Bendung Gerak, sejarah penemuan perahu kuno di Desa Padang, hingga tradisi masyarakat yang berkaitan dengan kehidupan sungai.

Kami dari Komisi B melihat potensi luar biasa di sini. Ada Bendung Gerak, ada sejarah perahu kuno yang ditemukan di Padang, serta tradisi pertanian maritim sungai. Ini harus kita kemas menjadi paket wisata yang menarik. Anggaran untuk promosi dan pembinaan Pokdarwis akan terus kami kawal," ujarnya.

Sudiono menekankan pentingnya pengemasan potensi wisata secara terarah agar setiap destinasi memiliki karakter dan daya tarik tersendiri. Promosi yang berkelanjutan serta pembinaan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) diharapkan dapat memperkuat pengelolaan destinasi sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan.

Sementara itu, Camat Trucuk Adi Santoso menyampaikan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan kepada wilayahnya sebagai lokasi penyelenggaraan atraksi wisata budaya tingkat kabupaten. Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong desa-desa di Kecamatan Trucuk untuk lebih aktif menggali dan mengembangkan potensi alam, sejarah, serta kebudayaan masing-masing.

Setelah seremoni pembukaan, perhatian pengunjung tertuju pada penampilan Jaranan Turonggo Seto Mudo dari Desa Padang. Iringan gamelan, kendang, dan terompet menghidupkan suasana, berpadu dengan gerakan dinamis para penari yang mengenakan kostum khas jaranan. Pertunjukan tersebut menjadi wujud pelestarian kesenian tradisional sekaligus daya tarik yang memperkuat pengalaman wisata pengunjung.

Kemeriahan kegiatan juga didukung kehadiran stan UMKM binaan Desa Padang. Berbagai produk lokal ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari kuliner khas sego buwuhan dan ledre, buah belimbing, hingga kerajinan miniatur perahu Bengawan dan batik Jonegoroan.

Kehadiran stan UMKM memperlihatkan keterkaitan antara pengembangan pariwisata dan penguatan ekonomi masyarakat. Pertunjukan budaya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga membuka peluang promosi produk lokal kepada pengunjung yang datang ke kawasan Galeri Bengawan.

Seluruh rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 11.30 WIB dan ditutup dengan foto bersama antara tamu undangan dan masyarakat. Atraksi wisata budaya ini diharapkan dapat menjadi bagian dari kalender pariwisata Kabupaten Bojonegoro tahun 2027, sekaligus memperkuat posisi Galeri Bengawan sebagai ruang pelestarian budaya, edukasi lingkungan, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi desa.

Share :