Home Daerah

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Bupati Bojonegoro Tegaskan Aksi Nyata Hadapi Krisis Iklim Melalui Gerakan Indonesia Asri

by Media Rajawali - 10 Juni 2026, 18:14 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Komitmen Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam menjaga kelestarian lingkungan kembali ditegaskan melalui peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang dirangkaikan dengan aksi Gerakan Indonesia Asri. Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Bupati Bojonegoro Setyo Wahono tersebut berlangsung di kawasan sumber mata air (sendang) Desa Kunci, Kecamatan Dander, Rabu (10/6/2026), dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah, pelajar, hingga masyarakat setempat.

Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim global, peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun ini tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga ajakan kolektif untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan melalui tindakan nyata dan berkelanjutan.

Dalam amanatnya, Bupati Setyo Wahono menegaskan bahwa perubahan iklim kini telah menjadi persoalan nyata yang dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Peningkatan suhu bumi, cuaca ekstrem, banjir, serta kekeringan merupakan rangkaian fenomena yang menunjukkan pentingnya langkah bersama dalam menjaga keseimbangan alam.

Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan tantangan yang sedang kita hadapi saat ini. Oleh karena itu, menjaga lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” ujar Bupati Wahono.

Ia mengajak masyarakat menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari budaya dan gaya hidup sehari-hari. Menurutnya, berbagai langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi dan air, memilah sampah sejak dari rumah, melakukan penghijauan, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar dapat memberikan dampak signifikan bagi keberlanjutan ekosistem.

Lebih lanjut, Bupati menekankan bahwa Gerakan Indonesia Asri merupakan manifestasi semangat gotong royong dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Gerakan tersebut, kata dia, harus diwujudkan melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, kalangan akademisi, komunitas, dan masyarakat.

Gerakan Indonesia Asri tidak boleh berhenti pada kegiatan simbolis. Yang terpenting adalah keberlanjutan aksi dan sinergi seluruh pihak dalam menjaga lingkungan hidup,” tegasnya.

Sebagai simbol dimulainya aksi penghijauan berkelanjutan, Bupati Setyo Wahono menyerahkan bibit buah matoa secara simbolis kepada Kepala Desa Kunci. Penyerahan bibit tersebut diharapkan menjadi pemantik gerakan menanam pohon di kawasan tangkapan air maupun lingkungan permukiman warga guna memperkuat fungsi konservasi lahan dan menjaga ketersediaan sumber daya air.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sendiri terus menunjukkan komitmennya dalam mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam berbagai program daerah. Upaya tersebut diwujudkan melalui penguatan ekonomi hijau, peningkatan tata kelola sampah, pengembangan ruang terbuka hijau (RTH), serta mendorong partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan konservasi lingkungan.

Menutup sambutannya, Bupati Wahono mengingatkan bahwa masa depan yang berkelanjutan hanya dapat diwujudkan melalui kerja nyata yang dilakukan sejak hari ini.

Menjaga lingkungan bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga memastikan kualitas hidup yang lebih baik bagi generasi mendatang. Kita harus mampu mewariskan mata air yang tetap mengalir dan udara yang tetap bersih,” katanya.

Baca juga:

Usai pelaksanaan apel, kegiatan dilanjutkan dengan aksi gotong royong membersihkan kawasan sumber mata air Sendang Kunci. Seluruh peserta terlibat dalam penanaman pohon di sekitar area sendang serta pembersihan kolam sumber mata air sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan ekosistem setempat.

Kegiatan tersebut diikuti unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi perangkat daerah (OPD), Forkopimcam, pelajar, serta masyarakat yang bersama-sama menunjukkan komitmen dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro, Luluk Alifah, menegaskan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup harus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran publik terhadap berbagai isu lingkungan, mulai dari persoalan sampah, ketersediaan air bersih, hingga dampak perubahan iklim.

Menurutnya, keberhasilan menjaga lingkungan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat.

Persoalan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Semua elemen masyarakat harus berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian sumber daya alam,” ujarnya.

Mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya menjaga sumber mata air sebagai bagian dari upaya mempertahankan keberlanjutan kehidupan masyarakat. Sendang Kunci dinilai memiliki peran strategis sebagai sumber kehidupan sekaligus kawasan resapan yang mendukung keseimbangan lingkungan di wilayah sekitarnya.

Luluk menjelaskan bahwa pelestarian sumber mata air tidak hanya bertujuan menjaga kualitas dan kuantitas air, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem yang menopang kehidupan.

Sendang Kunci adalah sumber kehidupan yang harus dijaga bersama. Kami ingin memastikan kawasan ini tetap berfungsi optimal sebagai sumber air dan daerah resapan, sekaligus menjadi sarana edukasi lingkungan bagi masyarakat,” jelasnya.

Melalui Gerakan Bojonegoro Asri, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap kawasan Sendang Kunci tetap lestari, bersih, sehat, dan terhindar dari pencemaran. Lebih dari itu, gerakan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki serta budaya peduli lingkungan yang mengakar di tengah masyarakat.

Di akhir kegiatan, Luluk kembali mengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan ramah lingkungan melalui tindakan sederhana namun berdampak besar, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan mulai memilah sampah dari rumah.

Sendang Kunci merupakan anugerah sekaligus sumber kehidupan bagi masyarakat. Apa yang kita jaga hari ini akan menjadi warisan berharga bagi generasi masa depan,” pungkasnya.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Bojonegoro menjadi penegasan bahwa upaya menghadapi perubahan iklim tidak cukup dilakukan melalui kebijakan semata. Keberhasilan menjaga lingkungan membutuhkan kesadaran kolektif, aksi berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor agar sumber daya alam yang ada tetap mampu menopang kehidupan masyarakat untuk generasi yang akan datang.

Share :