- Oleh: Budi Hartono
Blora, — Upaya menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi muda terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Blora. Melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (Dinporabudpar), pelajar sekolah menengah kejuruan diajak memahami nilai filosofis dan historis keris sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Blora, Widyarini Setyaningrum, S.ST., MM., menegaskan bahwa keris tidak semata dipandang sebagai benda fisik, melainkan sebagai simbol peradaban yang sarat makna.
“Kerislah yang perlu kita kenalkan kepada generasi Z. Ia bukan sekadar pusaka, tetapi juga cagar budaya yang mengandung nilai filosofi, spiritual, sejarah, dan seni,” ujarnya saat menerima kunjungan siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Rumah Artefak Blora, Selasa (24/2/2026).
Sebagai pengakuan atas nilai-nilai tersebut, keris Indonesia telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO sejak 2005. Pengakuan internasional ini mempertegas posisi keris sebagai salah satu penanda identitas kultural Indonesia di panggung dunia.
Kunjungan tersebut diikuti siswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) dari SMKN 1 Blora, SMK Muhammadiyah 1 Blora, serta SMK Nurul Huda Ngawen. Mereka diarahkan pembimbing untuk memanfaatkan waktu ngabuburit dengan membuat konten foto, video, serta melakukan wawancara terkait koleksi benda cagar budaya.
Bagi para siswa, pengalaman tersebut bukan sekadar tugas akademik. Siti Alviah, siswi jurusan TKJ, mengaku kegiatan itu memberi perspektif baru tentang sejarah purbakala.
“Ini pertama kalinya kami ke Rumah Artefak. Belajar langsung dari petugas yang berkompeten, membuat konten media sosial, rasanya ngabuburit jadi lebih bermakna dan puasa tidak terasa,” ujarnya.
Baca juga:
Hal senada disampaikan Dyah Aprilia Widyastuti dari jurusan DKV. Ia mengaku terkesan saat melihat patung rekonstruksi Homo erectus progresif, koleksi bantuan dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.
“Kami terkejut dan kagum. Ada fosil paus purba, benda pusaka seperti keris, dan kami bahkan diajari teknik mendirikan keris. Ternyata bukan sulap, ada teknik dan prinsip keseimbangan,” katanya.
Widyarini menjelaskan, fenomena keris dapat berdiri tegak bukanlah praktik mistis, melainkan hasil keseimbangan fisik yang presisi antara bilah (besi/pamor), hulu (pegangan), dan warangka (sarung).
“Titik beratnya berada pada posisi yang tepat, terutama di ujung keris yang runcing. Dengan teknik dan konsentrasi yang benar, keris dapat berdiri. Ini soal fisika dan presisi, bukan semata hal gaib,” jelasnya.
Penjelasan tersebut menjadi bagian penting dalam meluruskan persepsi generasi muda, sekaligus menempatkan keris dalam konteks ilmiah dan rasional tanpa menghilangkan nilai filosofisnya.
Rumah Artefak Blora saat ini menyimpan sekitar 300 benda cagar budaya yang merepresentasikan empat fase peradaban: masa prasejarah, klasik Hindu-Buddha, Islam, hingga kolonial. Koleksi tersebut dirawat oleh petugas Dinporabudpar yang telah mengikuti pelatihan konservasi di berbagai lembaga pelestarian tingkat nasional, termasuk Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah.
Selain sebagai ruang penyimpanan, Rumah Artefak juga berfungsi sebagai pusat edukasi dan konservasi. Di sinilah generasi muda diperkenalkan pada jejak panjang sejarah daerahnya, bukan hanya melalui teks buku, melainkan melalui artefak nyata yang menyimpan narasi peradaban.
Di tengah arus digitalisasi yang serba cepat, pendekatan edukatif berbasis pengalaman langsung seperti ini menjadi jembatan antara warisan masa lalu dan generasi masa depan. Keris, dalam konteks tersebut, bukan hanya pusaka yang diwariskan, melainkan nilai yang terus dihidupkan.