Home Daerah

Gemarikan Menyasar Sekolah, Pemkab Bojonegoro Dorong Anak Jadi Agen Perubahan Pola Konsumsi Ikan

by Media Rajawali - 12 September 2026, 11:51 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Upaya meningkatkan konsumsi ikan di Kabupaten Bojonegoro mulai diarahkan lebih kuat ke lingkungan sekolah. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) tidak hanya membagikan produk olahan ikan kepada siswa, tetapi juga membangun pemahaman tentang pentingnya ikan sebagai bagian dari pemenuhan gizi sejak usia dini.

Pendekatan tersebut diterapkan di SD Negeri Sukowati, Jumat (11/9/2026). Sebanyak 147 siswa menjadi sasaran kegiatan yang dikemas melalui pembagian makanan olahan ikan sekaligus edukasi mengenai manfaat ikan dan beragam cara pengolahannya.

Kegiatan dihadiri Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro Catur Rahayu, jajaran pemerintah desa, para guru, serta siswa SDN Sukowati.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro Catur Rahayu mengatakan Gemarikan merupakan gerakan yang dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat nasional hingga daerah, dengan tujuan membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi ikan.

Menurutnya, ikan merupakan sumber pangan yang memiliki kandungan protein, vitamin, serta asam lemak tak jenuh, termasuk omega-3. Kandungan tersebut memiliki peran penting dalam menunjang pertumbuhan fisik sekaligus perkembangan otak anak.

Konsumsi ikan tidak hanya soal makanan, tetapi juga berkaitan dengan pemenuhan gizi untuk mendukung tumbuh kembang anak,” jelas Catur.

Karena itu, menurut dia, kebiasaan makan ikan perlu diperkenalkan sejak bangku sekolah. Anak-anak tidak cukup hanya mengetahui bahwa ikan merupakan sumber pangan, tetapi juga perlu memahami manfaatnya serta mengenal berbagai bentuk olahan ikan yang dapat menjadi bagian dari menu sehari-hari.

Pada 2026, program Gemarikan di Bojonegoro dilaksanakan di lima kecamatan dan lima desa. Sebanyak 1.200 paket olahan ikan disiapkan untuk masyarakat di wilayah yang memiliki persoalan kurang gizi, stunting, ibu hamil, hingga anak-anak sekolah dasar.

Di SDN Sukowati, sebanyak 147 siswa menerima paket olahan ikan dengan jenis yang beragam. Produk yang diberikan sengaja tidak hanya berupa ikan segar, melainkan diolah menjadi makanan yang lebih praktis dan dekat dengan selera anak-anak.

Beragam produk tersebut antara lain abon lele, water crispy, keripik belut, bakso ikan, otak-otak bandeng, lele asap, dan lele marinasi.

Baca juga:

Variasi itu sekaligus menjadi bagian dari edukasi. Siswa diperkenalkan bahwa ikan tidak selalu harus disajikan dalam bentuk ikan utuh, tetapi dapat diolah menjadi berbagai makanan yang menarik, mudah dikonsumsi, dan memiliki nilai tambah.

Bagi pemerintah daerah, pendekatan tersebut penting untuk mengubah persepsi sekaligus kebiasaan makan. Ketika ikan hadir dalam berbagai bentuk olahan yang disukai anak-anak, diharapkan konsumsi ikan tidak lagi dipandang sebagai menu yang monoton.

Ketua Forikan Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono juga mengajak para siswa membiasakan diri mengonsumsi ikan. Ia mendorong anak-anak untuk mengenal lebih banyak jenis olahan ikan sehingga memiliki beragam pilihan menu dan tidak mudah merasa bosan.

Namun, sasaran Gemarikan tidak berhenti pada lingkungan sekolah. Anak-anak justru diharapkan membawa pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga masing-masing.

Dengan posisi tersebut, siswa dipandang dapat menjadi agen perubahan sederhana di lingkungan rumah. Mereka dapat mengajak orang tua mengenalkan lebih banyak menu berbahan ikan sekaligus membangun kebiasaan makan ikan bersama keluarga.

Upaya itu menjadi semakin relevan karena konsumsi ikan masyarakat Bojonegoro masih berada di bawah rata-rata Jawa Timur dan nasional.

Data Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro mencatat tingkat konsumsi ikan masyarakat setempat sebesar 18,9 kilogram per kapita per tahun. Angka itu masih lebih rendah dibandingkan konsumsi ikan Jawa Timur yang mencapai 22,15 kilogram per kapita per tahun, serta angka nasional sebesar 26 kilogram per kapita per tahun.

Selisih tersebut menunjukkan bahwa tantangan Bojonegoro bukan semata soal ketersediaan ikan, melainkan juga bagaimana membangun kegemaran masyarakat untuk menjadikannya bagian dari pola konsumsi sehari-hari.

Karena itu, intervensi melalui sekolah memiliki arti strategis. Anak-anak berada pada fase ketika kebiasaan makan masih mudah dibentuk. Edukasi yang diberikan sejak dini berpeluang terbawa hingga lingkungan keluarga dan berkembang menjadi kebiasaan yang lebih luas.

Gemarikan pada akhirnya tidak sekadar berbicara mengenai pembagian paket makanan. Program tersebut diarahkan menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran pangan dan gizi, dengan anak-anak sebagai pintu masuk untuk mendorong perubahan perilaku di tingkat keluarga.

Pemkab Bojonegoro berharap gerakan tersebut dapat berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan gizi anak sekaligus mendukung lahirnya generasi yang lebih sehat, kuat, dan cerdas.

Dari sekolah, kebiasaan makan ikan diharapkan tumbuh di rumah. Dari anak-anak, kesadaran tentang pentingnya ikan diharapkan bergerak lebih jauh, menjadi kebiasaan keluarga dan pada akhirnya menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat Bojonegoro.

Share :