- Oleh : Budi Hartono
BOJONEGORO – Upaya mengenalkan sekaligus merawat sejarah lokal kembali dilakukan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), masyarakat diajak menelusuri berbagai jejak sejarah yang tumbuh dan berkembang di desa-desa melalui Lomba Esai Sejarah Desa Bojonegoro 2026.
Mengusung tema “Menelusuri Jejak Sejarah Desa di Kabupaten Bojonegoro”, lomba tersebut tidak sekadar diarahkan sebagai kompetisi menulis. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menggali, mendokumentasikan, dan memperkenalkan kembali sejarah desa yang selama ini mungkin hanya tersimpan dalam ingatan masyarakat atau cerita yang diwariskan antargenerasi.
Kepala Disbudpar Kabupaten Bojonegoro, Elzadeba Agustina, mengatakan sejarah yang terdapat di setiap desa merupakan bagian penting dari identitas sekaligus kekayaan budaya daerah.
Melalui lomba ini, kami ingin mendorong masyarakat untuk lebih mengenal sejarah desa masing-masing. Jejak sejarah yang ada di desa merupakan bagian penting dari identitas dan kekayaan budaya Bojonegoro,” ujar Elzadeba.
Menurut dia, keterlibatan masyarakat menjadi penting karena sejarah lokal tidak selalu ditemukan dalam catatan tertulis. Sebagian kisah justru hidup melalui tradisi, peninggalan, tempat bersejarah, maupun cerita yang berkembang di tengah masyarakat.
Karena itu, lomba tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk mengangkat berbagai cerita sejarah desa secara lebih sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam ketentuannya, peserta wajib memilih salah satu subtema yang telah ditetapkan dalam petunjuk teknis lomba. Setiap karya harus bersifat orisinal, belum pernah diterbitkan atau dipublikasikan sebelumnya, serta disusun berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan panitia.
Baca juga:
Lomba terbuka bagi masyarakat yang berdomisili di Kabupaten Bojonegoro dengan batas usia minimal 16 tahun pada saat pendaftaran. Peserta dapat mengikuti lomba secara individu maupun berkelompok dengan jumlah anggota maksimal tiga orang.
Khusus peserta yang masih berstatus pelajar, panitia mewajibkan adanya kartu pelajar dan/atau surat keterangan aktif dari sekolah. Setiap peserta juga hanya diperbolehkan mengajukan satu judul esai.
Penilaian karya dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah aspek. Di antaranya format esai, kreativitas gagasan, topik yang diangkat, serta kemampuan peserta dalam melakukan analisis, sintesis, hingga menyusun simpulan.
Aspek orisinalitas menjadi perhatian khusus. Panitia menegaskan bahwa plagiarisme, pemalsuan data, maupun bentuk kecurangan lainnya dapat dikenai sanksi mulai dari pengurangan nilai, diskualifikasi, hingga pembatalan status sebagai pemenang.
Elzadeba berharap lomba tersebut dapat melampaui tujuan kompetisi dan menjadi sarana untuk menemukan kembali berbagai cerita sejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Bojonegoro.
Harapannya, lomba ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi menulis, tetapi juga menjadi ruang untuk menemukan dan mengangkat kembali cerita, nilai, serta sejarah desa yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat,” katanya.
Pendaftaran sekaligus pengiriman karya dibuka mulai 14 September hingga 14 Oktober 2026. Masyarakat yang berminat dapat memperoleh informasi lebih lanjut mengenai persyaratan, mekanisme pendaftaran, dan petunjuk teknis melalui tautan atau QR code pendaftaran yang disediakan Disbudpar Kabupaten Bojonegoro.
Dalam lomba tersebut, pemerintah daerah menyediakan total hadiah sebesar Rp10 juta.
Melalui kegiatan ini, sejarah desa ditempatkan bukan sekadar sebagai catatan tentang masa lalu, melainkan sebagai bagian dari identitas masyarakat yang perlu dikenali, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.