- Oleh : Budi Hartono
BOJONEGORO – Upaya memperkuat Batik Bojonegoro sebagai identitas budaya sekaligus produk ekonomi kreatif memasuki tahap baru. Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro menjalin kolaborasi dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk menyusun kajian akademis yang diharapkan menjadi fondasi pengembangan Batik Bojonegoro ke depan.
Kerja sama tersebut tidak sekadar diarahkan untuk mendokumentasikan ragam motif yang selama ini berkembang di tengah masyarakat. Kajian akan mencakup penguatan identitas visual Batik Bojonegoro, penelusuran serta penyusunan filosofi setiap motif, hingga pengembangan kapasitas sumber daya manusia para perajin.
Langkah ini dinilai penting karena perkembangan batik tidak cukup hanya bertumpu pada kreativitas produksi. Di tengah semakin luasnya pasar industri kreatif, sebuah produk budaya membutuhkan identitas yang jelas, narasi yang kuat, serta pijakan akademis agar nilai yang terkandung di dalamnya dapat diwariskan dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, mengatakan kolaborasi dengan ISI Surakarta merupakan langkah awal untuk membangun kajian Batik Bojonegoro secara lebih sistematis.
Ini baru langkah awal untuk menyusun kajian secara akademis mengenai Batik Bojonegoro. Kajian tersebut meliputi penguatan identitas visual hingga penyusunan filosofi pada masing-masing motif batik yang ada,” ujarnya.
Menurut Cantika, kajian tersebut nantinya tidak berhenti pada aspek pelestarian dan dokumentasi budaya. Lebih jauh, hasil kajian diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi peningkatan kapasitas para perajin batik di Bojonegoro.
Pelatihan, pendampingan, kurasi desain, hingga berbagai bentuk pengembangan keterampilan menjadi bagian yang diharapkan dapat memperkuat kemampuan para perajin dalam menghasilkan karya yang memiliki nilai budaya sekaligus daya saing ekonomi.
Harapan kami sangat besar, terutama untuk peningkatan kapasitas para pengrajin batik di Bojonegoro. Mudah-mudahan mereka dapat memperoleh pelatihan, pendampingan, hingga proses kurasi desain maupun bentuk pengembangan lainnya yang akan memperkuat daya saing batik Bojonegoro,” tambahnya.
Saat ini, Bojonegoro memiliki sekitar 40 perajin batik yang secara konsisten menghasilkan karya dengan karakter dan interpretasi masing-masing. Keragaman tersebut menjadi kekuatan, tetapi pada saat yang sama membutuhkan pijakan bersama agar pengembangan desain tidak kehilangan identitas daerah.
Karena itu, penyusunan motif pakem menjadi salah satu aspirasi penting dari kalangan perajin. Motif pakem diharapkan dapat menjadi referensi utama dalam pengembangan desain baru, sehingga inovasi tetap berjalan tanpa menghilangkan karakter yang melekat pada Batik Bojonegoro.
Salah seorang perajin batik Bojonegoro, Lukdianto, menyambut positif langkah tersebut. Ia mengatakan kunjungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama para pihak terkait ke ISI Surakarta pada Selasa (4/8/2026) merupakan tindak lanjut dari aspirasi para perajin mengenai pentingnya memiliki acuan motif Batik Bojonegoro.
Baca juga:
Harapan kami, motif pakem Batik Bojonegoro nantinya dapat menjadi acuan dan selalu dimunculkan dalam setiap pengembangan motif-motif baru yang dihasilkan oleh para perajin batik di Bojonegoro,” ungkap Lukdianto.
Menurutnya, keberadaan motif pakem bukan berarti membatasi kreativitas perajin. Sebaliknya, acuan tersebut diharapkan menjadi fondasi agar inovasi yang lahir tetap memiliki hubungan yang kuat dengan karakter dan identitas budaya Bojonegoro.
Dari perspektif akademik, kekayaan budaya Bojonegoro dinilai memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan menjadi sumber inspirasi karya seni.
Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, menilai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Bojonegoro dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk karya seni, termasuk melalui motif batik.
Bojonegoro memiliki kearifan lokal yang dapat diterjemahkan dalam bentuk visual pada motif batik maupun karya seni lainnya. Dengan demikian, identitas Bojonegoro tidak hanya melekat secara visual, tetapi juga hidup dalam budaya keseharian masyarakat,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menempatkan pengembangan Batik Bojonegoro dalam perspektif yang lebih luas. Batik tidak hanya dipandang sebagai kain bermotif, melainkan sebagai medium untuk merekam gagasan, sejarah, lingkungan, tradisi, serta nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, setiap motif yang dikembangkan diharapkan memiliki cerita dan makna yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus mudah dipahami oleh generasi berikutnya.
Kolaborasi antara Dekranasda Bojonegoro dan ISI Surakarta pada akhirnya diarahkan pada dua kepentingan yang saling melengkapi: menjaga akar budaya sekaligus membuka ruang pertumbuhan ekonomi kreatif.
Pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan para perajin memiliki peran berbeda dalam proses tersebut. Pemerintah dapat menyediakan dukungan kebijakan dan ekosistem pengembangan, perguruan tinggi memberikan landasan akademis serta pendampingan, sementara para perajin menjadi pelaku utama yang menerjemahkan identitas budaya tersebut ke dalam karya.
Sinergi itu diharapkan mampu melahirkan ekosistem Batik Bojonegoro yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki standar identitas, kualitas desain, dan narasi budaya yang kuat.
Pada tahap berikutnya, penguatan tersebut diharapkan membawa Batik Bojonegoro melampaui fungsi sebagai produk kerajinan. Ia dapat tumbuh sebagai representasi sejarah dan jati diri daerah, sekaligus menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif yang memiliki daya saing lebih luas.
Dengan fondasi akademis yang sedang mulai dibangun, Batik Bojonegoro diharapkan mampu berkembang tanpa kehilangan akar. Motif dapat terus berinovasi, perajin dapat meningkatkan kapasitas, dan identitas budaya tetap terjaga.
Dari Bojonegoro, batik bukan hanya diharapkan berbicara tentang kain dan motif, tetapi juga tentang bagaimana sebuah daerah menjaga ingatan budayanya, menerjemahkannya ke dalam karya, dan membawanya ke panggung nasional hingga internasional.