Home Daerah

Dari Sampah Menjadi Berkah, Warga Semenkidul Sulap Limbah Plastik Jadi Bernilai

by Media Rajawali - 12 Agustus 2026, 14:33 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Sampah plastik yang selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan justru disulap warga Desa Semenkidul, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, menjadi sumber kreativitas, pemberdayaan, hingga kegiatan sosial.

Gerakan tersebut tumbuh melalui Komunitas Arisan Sampah MAPAK (Emak-emak Berdampak), yang salah satu aktivitasnya dikoordinasikan Insiyah, Ketua RT 07 Desa Semenkidul. Di rumahnya, berbagai benda hasil pemanfaatan sampah plastik dipajang dan menjadi bukti bahwa barang yang telah kehilangan fungsi masih dapat diberi kehidupan baru.

Di teras rumah Insiyah, sejumlah galon bekas berubah menjadi aneka bentuk. Ada angsa, sapi, beruang, kelinci, bunga, hingga berbagai model lainnya yang kemudian dimanfaatkan sebagai pot tanaman. Limbah yang semula berakhir sebagai sampah kini memiliki fungsi sekaligus nilai estetika.

Bagi warga Semenkidul, kegiatan tersebut bukan sekadar upaya mempercantik lingkungan. Gerakan memilah sampah telah berkembang menjadi kebiasaan bersama yang menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan manfaat ekonomi dan sosial.

Insiyah menuturkan, gerakan arisan sampah mulai dirintis pada Mei 2025. Pada awalnya, para anggota secara rutin memilah dan mengumpulkan sampah dari lingkungan sekitar. Sampah yang memiliki nilai jual kemudian dikumpulkan dan dijual.

Dulu sampah dipilah oleh para anggota yang ikut arisan sampah. Alhamdulillah, kita bisa bersedekah dari hasil penjualan sampah plastik,” ujar Insiyah.

Seiring waktu, kegiatan tersebut berkembang. Dukungan dari pemerintah desa dan kecamatan ikut memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah. Semenkidul tidak hanya mendorong warga untuk mengumpulkan sampah, tetapi juga membangun budaya menjaga kebersihan secara bersama-sama.

Kepedulian itu terlihat dalam berbagai kegiatan kebersihan lingkungan. Salah satunya ketika masyarakat bergotong royong memunguti sampah yang tersisa setelah pelaksanaan Car Free Day (CFD).

Insiyah mengatakan, dukungan pemerintah desa dan kecamatan membuat masyarakat semakin terdorong untuk bergerak.

Alhamdulillah, Pak Kades juga mendukung. Pak Camat juga peduli terhadap sampah yang berserakan di Semenkidul. Bu Camat ikut membantu memunguti sampah seusai CFD. Alhamdulillah, teman-teman tidak ada yang mengeluh,” tuturnya.

Pertumbuhan komunitas juga menunjukkan meningkatnya kesadaran warga. Jika pada awal pembentukan hanya terdapat 16 anggota, kini jumlah peserta telah berkembang menjadi sekitar 35 orang.

Keterlibatan masyarakat datang dari berbagai unsur. Bahkan, pimpinan Muslimat turut bergabung dalam gerakan tersebut. Bagi Insiyah, semakin banyak elemen masyarakat yang terlibat berarti semakin kuat pula fondasi gerakan kebersihan berbasis warga.

Baca juga:

Sistem pengumpulan sampah dilakukan secara berkala. Setiap tanggal 13, para anggota membawa sampah yang telah mereka kumpulkan ke lokasi pengelolaan. Sampah kemudian dipilah berdasarkan jenis dan kondisinya.

Sampah plastik yang masih memiliki nilai guna dipisahkan untuk didaur ulang, dimanfaatkan kembali, atau dijual. Dari proses sederhana tersebut, lahir dua manfaat sekaligus: lingkungan menjadi lebih bersih, sementara sampah yang terkumpul dapat menghasilkan nilai ekonomi.

Sebagian hasil dari kegiatan arisan sampah tersebut bahkan disisihkan untuk kegiatan sosial berupa sedekah,” ungkap Insiyah.

Di sisi lain, kreativitas warga menjadi wajah lain dari gerakan tersebut. Galon bekas yang biasanya dibuang dapat diubah menjadi berbagai bentuk hewan dan digunakan sebagai pot tanaman.

Daripada galon tidak terpakai, dibuat menjadi bentuk angsa. Bentuk hewan-hewan itu dibuat menjadi pot agar memiliki nilai tambah. Di sini, sampah plastik dipilah untuk menentukan mana yang masih bisa didaur ulang,” jelasnya.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah tidak selalu harus diselesaikan dengan pendekatan yang rumit. Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah: memilah, mengumpulkan, menggunakan kembali, kemudian mengolah sampah sesuai potensinya.

Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, mengapresiasi gerakan yang dilakukan warga Desa Semenkidul. Menurutnya, MAPAK dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang layak dikembangkan di wilayah lain.

Semoga makin banyak masyarakat yang meniru karena ini contoh yang bagus. Pengelolaan sampahnya sudah terstruktur. Ini juga merupakan bagian dari program Pokja II TP PKK Kabupaten,” ujarnya.

Cantika menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah pada akhirnya sangat bergantung pada kesadaran setiap individu. Sistem yang baik tidak akan berjalan tanpa kebiasaan masyarakat untuk memperlakukan sampah secara bertanggung jawab. Perlu kesadaran kita untuk memasukkan sampah ke tempat sampah,” tegasnya.

Rumah Insiyah kemudian menjadi semacam etalase kecil dari perubahan tersebut. Benda-benda yang sebelumnya tidak bernilai kembali memperoleh fungsi melalui kreativitas warga. Dari sana, pesan yang lebih besar muncul: pengelolaan sampah bukan semata-mata persoalan membuang dan membersihkan, melainkan juga bagaimana masyarakat melihat kembali nilai dari sesuatu yang dianggap tidak berguna.

Gerakan MAPAK menunjukkan bahwa ketika pengelolaan sampah dibangun melalui partisipasi masyarakat, manfaatnya dapat melampaui persoalan kebersihan. Sampah dapat menjadi bahan kreativitas, sumber nilai ekonomi, sarana berbagi, sekaligus ruang untuk memperkuat solidaritas warga.

Apa yang dilakukan masyarakat Semenkidul menjadi contoh bahwa perubahan lingkungan tidak selalu lahir dari kebijakan besar. Ia dapat tumbuh dari rumah, dari kebiasaan memilah sampah, dari tangan-tangan warga yang mau bekerja bersama, lalu berkembang menjadi gerakan yang memberi manfaat bagi lingkungan dan sesama.

Share :