Home Daerah

Dari Jalan untuk Sesama, Ojol Bojonegoro Bersatu Salurkan Bantuan kepada Pasutri Lansia

by Media Rajawali - 11 September 2026, 16:26 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO — Kepedulian sosial tidak selalu lahir dari ruang-ruang formal. Di tengah rutinitas mencari nafkah di jalan, para pengemudi ojek online (ojol) di Kabupaten Bojonegoro memilih menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu warga yang membutuhkan.

Melalui gerakan bertajuk Dari Jalan untuk Sesama, Menebar Berkah di Hari Jumat, Komunitas Ojol Bojonegoro Bersatu bersama komunitas wartawan dan Aktivis Ketahanan Pangan (AKP) menyalurkan bantuan kepada pasangan suami istri (pasutri) lanjut usia yang tinggal di kawasan belakang taman hiburan di Jalan Veteran, Kabupaten Bojonegoro, Jumat (11/9/2026).

Kehadiran rombongan tersebut tidak sekadar membawa bantuan kebutuhan pokok. Mereka datang untuk memastikan bahwa kondisi pasangan lansia tersebut mendapat perhatian setelah kehidupan mereka diketahui berlangsung dalam keterbatasan.

Sang istri mengalami gangguan penglihatan hingga tidak dapat melihat. Sementara sang suami mengalami cedera pada lengan kanan akibat patah tulang. Kondisi fisik keduanya membuat kemampuan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari menjadi semakin terbatas.

Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, patah tulang pada lengan kanan sang suami sebelumnya telah mendapatkan penanganan. Namun, tulang tersebut belum tersambung sebagaimana mestinya. Hingga kini, lengan tersebut masih menggunakan kain penahan untuk menjaga posisinya.

Dalam kunjungan itu, bantuan yang disalurkan berupa 50 kilogram beras, mi instan, minyak goreng, sejumlah kebutuhan pokok lainnya, serta uang tunai.

Bagi komunitas ojol, bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya sederhana untuk menghadirkan manfaat di tengah masyarakat. Nilainya mungkin tidak besar, tetapi lahir dari kepedulian dan patungan para pengemudi yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari jalanan.

Ketua Komunitas Ojol Bojonegoro Bersatu, Suwito, yang akrab disapa Wio, mengatakan kegiatan tersebut bermula dari keinginan sejumlah pengemudi untuk berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan.

Menurut Wio, para pengemudi ojol dalam kesehariannya juga kerap menerima kebaikan dari masyarakat. Salah satunya berupa pemberian makanan ketika mereka sedang bekerja di jalan. Pengalaman tersebut kemudian mendorong munculnya keinginan untuk meneruskan kebaikan kepada orang lain.

Di setiap Jumat kita sebenarnya juga sudah melakukan pembagian nasi kotak untuk pengguna jalan. Walaupun jumlahnya tidak banyak, tapi ada niatan untuk berbagi. Maklumlah, dana dari patungan rekan-rekan,” ujar Wio.

Ia menegaskan, kegiatan sosial tersebut tidak diukur dari besarnya bantuan yang diberikan. Bagi komunitasnya, yang lebih penting adalah hadirnya kepedulian dan kemauan untuk berbagi dengan masyarakat yang berada dalam kondisi sulit.

Baca juga:

Semangat tersebut, kata dia, juga tidak terlepas dari dukungan para donatur yang turut membantu terlaksananya kegiatan Jumat Berkah.

Terima kasih kepada donatur. Semoga amal baik panjenengan semua mendapatkan beribu balasan kebaikan dari Allah SWT,” katanya.

Persoalan yang dihadapi pasutri lansia tersebut tidak berhenti pada keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan. Status lahan yang mereka tempati juga menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan.

Anggota Aktivis Ketahanan Pangan (AKP), Bima Rahmat, mengatakan pihaknya akan berupaya mengomunikasikan kondisi pasangan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro maupun organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Menurut Bima, langkah tersebut penting agar keberadaan pasutri tersebut dapat diketahui pemerintah dan memungkinkan adanya bentuk perhatian atau penanganan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kita coba komunikasikan dengan Pemkab ataupun dinas terkait,” ujar Bima.

Namun, ia menjelaskan bahwa terdapat kendala berkaitan dengan status lahan tempat pasangan tersebut tinggal. Berdasarkan informasi yang diperoleh, lahan tersebut bukan berstatus sertifikat hak milik (SHM).

Kondisi itu menjadi pertimbangan tersendiri apabila bantuan yang diharapkan berkaitan dengan program fisik, seperti bedah rumah atau Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Kalau untuk program bedah rumah atau RTLH tentu tidak bisa, karena tanah yang ditempati adalah tanah bukan SHM, tanah Solo Valley,” jelasnya.

Meski demikian, keterbatasan aspek legalitas lahan tidak semestinya menghilangkan ruang bagi kepedulian. Bima berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat melihat persoalan tersebut secara menyeluruh dan menemukan bentuk bantuan yang memungkinkan diberikan sesuai aturan.

Kunjungan Ojol Bojonegoro Bersatu bersama komunitas wartawan dan AKP memperlihatkan bahwa solidaritas sosial dapat tumbuh dari ruang mana pun, termasuk dari jalan yang setiap hari menjadi tempat para pengemudi mencari penghasilan.

Bagi para driver ojol, jalan bukan hanya tempat bekerja. Dari jalan pula tumbuh perjumpaan dengan berbagai wajah kehidupan, termasuk mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Jumat Berkah tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak selalu membutuhkan kemampuan besar. Ia dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: menyisihkan sebagian rezeki, mendatangi mereka yang membutuhkan, dan memastikan bahwa warga dalam kondisi rentan tidak sepenuhnya berjalan sendirian. Dari jalan untuk sesama. Dari kepedulian, tumbuh kebaikan.

Share :