- Sumber : Kodim 0813
BOJONEGORO, — Upaya peningkatan konektivitas wilayah pedesaan di perbatasan Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Ngawi memasuki tahap awal. Komandan Distrik Militer (Dandim) 0813 Bojonegoro, Letkol Inf Dedy Dwi Wijayanto, melakukan peninjauan langsung lokasi rencana pembangunan jembatan beton yang akan menghubungkan Dusun Tawaran, Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo, dengan Desa Kenongorejo, Kecamatan Beringin, Sabtu.
Peninjauan tersebut difokuskan pada verifikasi kesiapan teknis dan kondisi geografis lapangan menjelang pelaksanaan pembangunan jembatan berukuran 23 meter panjang dan 6 meter lebar. Infrastruktur ini diharapkan menjadi solusi permanen atas keterbatasan akses yang selama ini bergantung pada jembatan kayu dengan kondisi yang dinilai tidak lagi layak dan berisiko bagi keselamatan warga.
Dalam kunjungan tersebut, Dandim didampingi jajaran personel TNI, aparat desa, serta tokoh masyarakat setempat. Rombongan menempuh medan menuju lokasi dengan kendaraan roda dua jenis trail guna memastikan secara langsung kondisi akses jalan dan titik konstruksi yang direncanakan.
Letkol Inf Dedy Dwi Wijayanto menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini merupakan bagian dari program dukungan pemerintah pusat dalam mempercepat pembangunan di wilayah pedesaan, khususnya pada sektor infrastruktur dasar yang berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat. Program tersebut, menurutnya, sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.
Pembangunan jembatan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi transportasi warga, sekaligus memperlancar aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan di wilayah ini,” ujarnya.
Baca juga:
Lebih lanjut, pihaknya menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan pembangunan guna memastikan pelaksanaan berjalan sesuai rencana, serta menjaga keamanan dan ketertiban selama proses berlangsung.
Sementara itu, Kepala Desa Napis, Mulyono, menyampaikan apresiasi atas realisasi rencana pembangunan yang telah lama dinantikan warga. Ia mengungkapkan bahwa kondisi jembatan kayu yang selama ini digunakan telah mengalami kerusakan signifikan dan kerap menimbulkan kekhawatiran, terutama saat dilalui kendaraan.
Pembangunan jembatan ini merupakan jawaban atas kebutuhan mendesak masyarakat. Kami berharap prosesnya dapat berjalan lancar dan segera memberikan manfaat nyata bagi warga,” kata Mulyono.
Menurutnya, peletakan batu pertama (groundbreaking) dijadwalkan berlangsung pada Minggu (5 April 2026), sebagai penanda dimulainya pembangunan fisik proyek tersebut.
Dengan terealisasinya jembatan penghubung ini, pemerintah desa dan masyarakat setempat berharap tercipta dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk peningkatan distribusi hasil pertanian, kemudahan akses pendidikan, serta percepatan layanan kesehatan lintas wilayah.
Pembangunan infrastruktur ini sekaligus menjadi simbol percepatan pemerataan pembangunan di kawasan perbatasan antar kabupaten, yang selama ini kerap menghadapi keterbatasan akses akibat kondisi geografis dan minimnya sarana penghubung yang memadai.