- REDAKSI
Sragen — Upaya mitigasi bencana terus diperkuat di tingkat desa melalui langkah sederhana namun berdampak nyata. Menghadapi potensi cuaca ekstrem pada musim hujan, aparat kewilayahan bersama masyarakat bergerak cepat melakukan pembersihan talud sebagai bentuk pencegahan dini terhadap ancaman longsor dan banjir.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Babinsa Desa Plosokerep, Serka Darmadi, yang bersama dua anggota Koramil 02/Karangmalang Kodim 0725/Sragen turun langsung ke lapangan, Jumat (17/04/2026). Bersama warga, mereka bergotong royong membersihkan saluran air di sepanjang talud penahan jalan yang selama ini berfungsi menjaga stabilitas tanah sekaligus mengalirkan air hujan.
Pembersihan difokuskan pada pengangkatan sampah, pemotongan rumput liar, serta penghilangan material yang berpotensi menyumbat aliran air. Kondisi talud yang bersih dinilai krusial untuk memastikan air dapat mengalir dengan lancar, sehingga tidak menimbulkan tekanan berlebih yang dapat merusak struktur penahan tanah.
Di sela kegiatan, Darmadi menegaskan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan sekitar. Menurutnya, talud yang tertutup sampah dan vegetasi liar berisiko menyebabkan air meluap ke badan jalan hingga masuk ke permukiman warga.
Baca juga:
Pembersihan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi langkah antisipatif agar longsor dan banjir tidak terjadi. Ketika saluran air terhambat, dampaknya bisa meluas dan merugikan masyarakat,” ujarnya.
Keterlibatan langsung Babinsa dalam kegiatan tersebut juga menjadi bentuk pendekatan humanis kepada warga, sekaligus sarana edukasi tentang pentingnya menjaga infrastruktur lingkungan secara berkelanjutan. Sinergi antara aparat dan masyarakat ini memperlihatkan bahwa pencegahan bencana dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan bersama.
Respons positif datang dari warga yang merasa terbantu dengan kehadiran Babinsa dalam kegiatan kerja bakti tersebut. Selain mempercepat proses pembersihan, kehadiran aparat juga memberikan rasa aman dan meningkatkan semangat kebersamaan.
Dengan selesainya pembersihan, kondisi talud kini kembali optimal dalam menjalankan fungsinya. Aliran air menjadi lebih lancar, sehingga kekhawatiran terhadap genangan maupun potensi longsor saat hujan deras dapat diminimalkan.
Langkah ini menjadi contoh konkret bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana tidak selalu membutuhkan teknologi canggih, melainkan dapat diwujudkan melalui kepedulian, kolaborasi, dan konsistensi dalam menjaga lingkungan sekitar.