Home Daerah

Bojonegoro Inovatif Award 2026, Pemkab Tekankan Inovasi Berkualitas dan Berdampak bagi Masyarakat

by Media Rajawali - 30 Oktober 2026, 19:46 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat budaya inovasi sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah. Melalui ajang Bojonegoro Inovatif Award (BIA) 2026, pemerintah memberikan apresiasi kepada para inovator yang menghadirkan gagasan dan solusi untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penghargaan tersebut diserahkan melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Bojonegoro di Hall Hotel Griya Dharma Kusuma, Kamis (29/10/2026). Tahun ini, BIA mencakup enam kategori, yakni organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah kecamatan, pemerintah desa/kelurahan, pelajar/mahasiswa, bidang usaha, dan masyarakat umum.

Penyelenggaraan BIA 2026 menjadi momentum untuk mendorong inovasi yang tidak hanya menghasilkan gagasan baru, tetapi juga mampu memberikan perubahan nyata. Pemerintah daerah menilai keberhasilan inovasi perlu diukur melalui manfaat, efektivitas, dan dampaknya terhadap penyelesaian persoalan yang dihadapi masyarakat.

Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah, yang hadir bersama Ketua Dewan Pembina Inspira Risbo (Inspirasi Akademisi dan Periset Bojonegoro), Cantika Wahono, menyampaikan salam dari Bupati Bojonegoro Setyo Wahono. Dalam sambutannya, Nurul menegaskan bahwa penilaian inovasi pada tahun ini harus lebih menitikberatkan pada kualitas dan hasil yang dapat dibuktikan, bukan semata-mata jumlah inovasi yang dihasilkan.

Penghargaan kali ini jangan menekankan kuantitas, tetapi kualitas. Maka, before-after-nya harus terlihat,” ungkapnya.

Menurut Nurul, inovasi yang baik harus mampu memperlihatkan perubahan sebelum dan sesudah diterapkan. Hal itu dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan pemberdayaan masyarakat, maupun penyelesaian persoalan pembangunan yang selama ini membutuhkan pendekatan baru.

Ia menambahkan, semangat berinovasi harus menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendorong kemajuan Bojonegoro. Sejumlah sektor strategis, termasuk pertanian dan kesehatan, membutuhkan pengembangan gagasan yang tepat sasaran agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.

Dalam konteks tersebut, keberadaan Brida memiliki peran penting untuk mengembangkan riset dan inovasi yang selaras dengan kebutuhan daerah. Hasil riset diharapkan dapat mendukung pencapaian target pembangunan, mulai dari penurunan angka kemiskinan, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran, hingga penguatan konektivitas antarwilayah.

Nurul juga mengingatkan agar penghargaan yang diterima tidak menjadi titik akhir perjalanan para inovator. Sebaliknya, apresiasi tersebut harus menjadi dorongan untuk menyempurnakan gagasan, memperluas penerapan inovasi, serta menguji manfaatnya dalam skala yang lebih besar, termasuk melalui kompetisi di tingkat provinsi dan nasional.

Inovasi ini jangan berhenti hanya karena pergantian pimpinan, karena inovasi adalah pemecahan masalah yang ada. Harapannya, dari para penerima penghargaan ini ada yang maju di tingkat nasional,” pesannya.

Baca juga:

Ia menegaskan bahwa keberlanjutan inovasi membutuhkan komitmen lintas kepemimpinan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pembangunan daerah, menurutnya, tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan kontribusi akademisi, pelaku usaha, pelajar, serta masyarakat melalui gagasan dan karya sesuai bidang masing-masing.

Tantangan kita ke depan masih panjang, maka jawabannya adalah inovasi. Mari berikhtiar memberikan inovasi terbaik untuk Pemerintah Kabupaten Bojonegoro,” ajaknya.

Sementara itu, Kepala Brida Kabupaten Bojonegoro, Dili Tri Wibowo, mengungkapkan bahwa jumlah inovasi yang masuk dalam BIA 2026 meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Dari 116 inovasi, jumlah tersebut bertambah menjadi 219 inovasi.

Peningkatan ini menunjukkan semakin terbukanya ruang partisipasi berbagai pihak dalam mengembangkan gagasan untuk kemajuan daerah. Namun, bertambahnya jumlah inovasi juga menjadi tantangan bagi pemerintah untuk memastikan setiap gagasan memiliki nilai guna, dapat diterapkan, dan memberikan manfaat yang terukur.

Dili menekankan bahwa inovasi yang dikembangkan OPD maupun pemerintah desa harus menjadi instrumen pendukung keberhasilan pembangunan, bukan sekadar memenuhi kebutuhan administrasi atau mengejar penghargaan. Karena itu, pengembangan inovasi perlu diarahkan pada kebutuhan riil masyarakat dengan mempertimbangkan efektivitas penerapan dan keberlanjutan program.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan BIA juga menjadi langkah awal untuk memperkuat kesiapan Kabupaten Bojonegoro menghadapi kompetisi Innovative Government Award (IGA). Melalui pengembangan inovasi yang konsisten, pemerintah daerah berharap berbagai terobosan yang lahir dari BIA dapat ditingkatkan kualitasnya, direplikasi di wilayah lain, dan diterapkan secara berkelanjutan.

Dalam pengembangan riset ke depan, Dili menyoroti pentingnya konservasi sumber daya air serta penelitian tanaman bernilai ekonomi tinggi dengan masa tanam kurang dari tiga bulan. Kedua bidang tersebut dinilai relevan untuk menjawab tantangan pengelolaan sumber daya alam sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya di sektor pertanian.

Salah satu isu yang perlu mendapatkan perhatian ialah konservasi sumber daya air, serta pengembangan riset tanaman yang memiliki nilai jual di pasar dengan masa tanam kurang dari tiga bulan,” tandasnya.

Penguatan riset tersebut diharapkan mampu mendorong pemanfaatan potensi lokal secara lebih optimal. Dengan dukungan inovasi yang berbasis kebutuhan dan peluang pasar, pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada pencapaian target, tetapi juga pada peningkatan produktivitas, penguatan ekonomi, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Dili optimistis Bojonegoro memiliki peluang besar untuk mengembangkan inovasi sebagai salah satu kekuatan ekonomi daerah. Namun, optimisme tersebut perlu diikuti dengan kolaborasi, konsistensi pengembangan riset, dan penerapan solusi yang benar-benar menjawab persoalan di lapangan.

Insyaallah Bojonegoro bisa menjadi simbol ekonomi yang sangat kuat. Inovasi harus terus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan dan tantangan daerah,” pungkasnya.

Melalui BIA 2026, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro diharapkan dapat memperkuat ekosistem inovasi yang melibatkan pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat. Keberhasilan ajang ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah penghargaan yang diberikan, tetapi juga oleh sejauh mana inovasi yang dihasilkan mampu diterapkan secara berkelanjutan dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat Bojonegoro.

Share :