Home Daerah

Bank Sampah Sendangharjo Hadirkan Energi Alternatif dan Ringankan Beban Pajak Warga

by Media Rajawali - 17 April 2026, 18:13 WIB

  • Oleh : Budi Hartono 

Bojonegoro — Di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap krisis sampah dan dampaknya terhadap lingkungan, sebuah desa di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menghadirkan pendekatan yang tidak hanya solutif, tetapi juga transformatif. Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, melalui Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH), menunjukkan bahwa limbah dapat diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi sekaligus energi alternatif.

Berawal dari upaya sederhana pengelolaan sampah rumah tangga, BSMKH berkembang menjadi model inovatif berbasis masyarakat yang mengintegrasikan teknologi, pemberdayaan ekonomi, serta kesadaran lingkungan. Program ini berada di bawah pembinaan Pertamina EP Cepu Zona 12, yang turut mendorong penerapan teknologi tepat guna di tingkat desa.

Ketua BSMKH, Ujang Surya Abdillah, menjelaskan bahwa pihaknya membedakan pengelolaan sampah berdasarkan nilai ekonominya. Sampah anorganik bernilai jual seperti kardus dan botol plastik tetap dipasarkan ke pengepul. Namun, limbah plastik berkualitas rendah, yang selama ini kerap terabaikan, diolah menggunakan teknologi pirolisis menjadi bahan bakar alternatif setara solar.

Pendekatan ini kami ambil untuk menjawab persoalan sampah yang tidak lagi memiliki nilai jual di pasaran. Dengan teknologi pirolisis, sampah plastik justru menjadi sumber energi baru yang dapat dimanfaatkan,” ujarnya.

Tak berhenti pada pengolahan limbah anorganik, BSMKH juga mengelola sampah organik melalui budidaya larva Black Soldier Fly (BSF). Maggot yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai pakan bernutrisi tinggi bagi peternak unggas dan pembudidaya ikan, menciptakan siklus ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Baca juga:

Salah satu inovasi paling menonjol dari program ini adalah skema Tabungan Sampah untuk PBB, yang telah berjalan sejak 2016. Melalui sistem ini, warga menabung sampah yang kemudian dikonversi menjadi nilai rupiah untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Setiap dua bulan, petugas melakukan penjemputan dan penimbangan langsung ke lingkungan warga, memastikan partisipasi tetap tinggi dan merata.

Program ini tidak hanya meringankan beban ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat budaya disiplin dalam pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Warga tetap diberikan fleksibilitas untuk mencairkan tabungan dalam bentuk uang tunai apabila dibutuhkan.

Keberhasilan BSMKH tidak terlepas dari peran aktif kelompok perempuan yang tergabung dalam kader My Darling (Masyarakat Sadar Lingkungan). Mereka menjadi ujung tombak edukasi di tingkat rumah tangga, mendorong praktik pemilahan sampah yang konsisten dan berkelanjutan.

Pendekatan kolaboratif ini menciptakan ekosistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Selain menghasilkan energi alternatif, sistem ini juga menyediakan pupuk organik serta pakan mandiri yang mendukung sektor pertanian dan peternakan lokal.

Model yang dikembangkan di Sendangharjo memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus menjadi beban, melainkan peluang. Dengan integrasi teknologi, partisipasi masyarakat, dan dukungan kelembagaan, limbah dapat diubah menjadi instrumen ekonomi sekaligus solusi lingkungan.

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, inisiatif desa ini menghadirkan pesan yang jelas, perubahan besar dapat dimulai dari skala kecil, selama ada kemauan untuk mengelola sumber daya secara cerdas dan berkelanjutan.

Share :